Kamis, 15 April 2010

dasar-dasar pemahaman peserta didik

Dasar-Dasar Pemahaman Peserta Didik
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Bimbingan dan Konseling








Disusun oleh Kelompok 7
Eva Utami (0800998)
Muthmainnah (0809264)
Yuke Hervianti (0801019)




PROGRAM PENDIDIKAN AKUNTANSI SI
FAKULTAS PENDIDIKAN EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2010
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur bagi Allah Rabb alam semesta. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan dan tauladan kita, Muhammad Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Berkat rahmat dan karunia-Nya lah kami dapat menyelesaikan penulisan makalah ini.
Makalah ini berisi tentang segala sesuatu hal yang menyangkut dasar-dasar pemahaman Peserta Didik khususnya bahasan tentang Aspek-Aspek Perkembangan peserta didik. Selain itu, disini diulas beberapa permasalahan yang bersangkutan dengan pembahasan serta bagaimana cara penyelesaian dari masalah tersebut.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Allah SWT
2. Orang tua kami
3. Bapak Agung Nugroho, selaku pengajar mata kuliah Bimbingan dan Konseling
4. Rekan-rekan mahasiswa program pendidikan akuntansi
Karena Berkat sumbangsih merekalah kami bisa menyelesaikan penulisan makalah ini.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa baik secara teknis maupun materi, makalah ini masih jauh dari harapan dan kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhirul kata, penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi semua pihak. Adanya kekurangan pada makalah ini semoga dijadikan pembelajaran dalam penulisan kedepannya agar lebih baik lagi.

Bandung, 26 Maret 2010




Penulis

Daftar isi

Kata pengantar…………………………………………………………………………………1
Daftar Isi……………………………………………………………………………………….2
Bab 1 Pendahuluan…………………………………………………………………………….3
1.1 Latar Belakang……………………………………………………………………………..3
1.2 Pembatasan Masalah……………………………………………………………………….3
1.3 Rumusan Masalah………………………………………………………………………….3
1.4 Tujuan Penulisan…………………………………………………………………………...3
1.5 Metode Penulisan…………………………………………………………………………..3
Bab 2 Kajian Teori……………………………………………………………………………..4
2.1 Pengertian Individu Sebagai Kesatuan Berbagai Karakteristik……………………………3
2.2 Karakteristik Peserta Didik ……………………………..…………………………………6
2.2 Aspek-aspek pertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik…………...………………..8
2.4 Kebutuhan Peserta Didik…………………………………………………………………..17
2.5 Tugas Perkembangan Peserta Didik………………………………………………………. 19
2.5.1 Tugas Perkembangan Peserta Didik Dalam Kehidupan Pribadi…………………………19
2.5.2 Tugas Perkembangan Peserta Didik Dalam Kehidupan Pendidikan Dan Karier………...20
2.5.3 Tugas Perkembangan Remaja Berkenaan Dengan Kehidupan Berkeluarga……………..20
2.6 Implikasi Tugas-Tugas Perkembangan Remaja Dalam Penyelenggaraan Pendidikan…......21
Bab 3 Pembahasan………………………………………………………………………………22
3.1 Permasalahan-Permasalahan Penyesuaian Diri Peserta Didik……………………………..22
3.2 Upaya penyelesaian masalah………………………………………………………………26
Bab 4 Penutup………………………………………………………………………………….28
4.1 Kesimpulan…………………………………………………………………………………28
4.2 Saran………………………………………………………………………………………..29
Daftar Pustaka………………………………………………………………………………….30



BAB 1
PENDAHULUAN


1.1 LATAR BELAKANG

Peserta didik merupakan individu-individu yang sedang tumbuh dan berkembang. Dimana Perkembangan peserta didik terjadi pada berbagai aspek baik aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Pertumbuhan dan perkembangan yang berlangsung demikian pesat berpengaruh pada perilaku. Tentu saja berbagai pihak terutama orang tua, guru, dan pembimbing berharap agar semua peserta didik memiliki perilaku yang sehat, yang sesuai dengan norma-norma yang berlaku dan tidak merugikan diri sendiri dan pihak lain. Untuk itulah dibutuhkan upaya agar tidak terjadi perilaku yang tidak sehat.
Secara kodrati setiap individu senantiasa memiliki dorongan untuk meningkatkan dan mengembangkan diri. Ini tampak dari ketiadaan rasa-puas yang bersifat mutlak. Kepuasan manusia dalam mencapai sesuatu senantiasa hanya bersifat sementara, untuk kemudian terdorong lagi mencapai tujuan atau cita-cita yang lebih tinggi.
Keberhasilan menyelesaikan pendidikan menengah pertama, mendorong siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang menengah. Beberapa lulusan sekolah menengah, khususnya sekolah menengah kejuruan ada yang langsung memasuki dunia kerja, tetapi juga ada yang melanjutkan pada jenjang pendidikan tinggi.
Mempertimbangkan pemikiran dan kenyataan tersebut, maka bimbingan konseling sebagai layanan pendidikan tidak hanya bersangkut-paut dengan upaya perbantuan dalam belajar tetapi juga dalam pengembangan diri, khususnya untuk memasuki dunia kerja.
Untuk bisa memberikan bimbingan konseling yang efektif kepada peserta didik. Tentunya terlebih dahulu para pendidik harus mengerti tentang dasar-dasar pemahaman peserta didik. Oleh karenanya pada kesempatan ini kami mencoba mengulas tentang dasar-dasar pemahaman peserta didik sehingga pendidik maupun calon pendidik mendapat gambaran tentang bagaimana cara agar bias memahami siswa dengan baik dan benar. Sehingga kelak nantinya bias menjadi guru teladan dan dhormati dan selalu dinanti kehadirannya oleh para siswa


1.2 PEMBATASAN MASALAH
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa manusia adalah makhluk yang paling kompleks dan rumit untuk dimengerti serta banyaknya karakteristik manusia maka dalam makalah ini kami hanya akan mengupas tentang individu-individu dalam kapasitas normal saja, artinya untuk individu-individu yang di luar normal atau berkebutuhan khusus kami kecualikan. Sebab menurut kami untuk individu-individu berkebutuhan khusus perlu perhatian tersendiri.

1.3 PERUMUSAN MASALAH
Masalah utama yang kami bahas dalam makalah ini adalah:
1. Bagaimana cara agar bisa memahami peserta didik?
2. Bagaimana cara agar peserta didik bias berkembang secara optimal?
3. Bagaimana agar biasa mengarahkan peserta didik?

1.4 TUJUAN PENULISAN
Tujuan penulisan makalah ini mencakup:
1. Untuk mengetahui hal-hal dasar
2. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Bimbingan dan Konseling

1.5 METODE PENULISAN
Penulisan makalah ini menggunakan metode study pustaka yang berasal dari berbagai sumber meliputi, buku internet dan sebagainya.








BAB 2
KAJIAN TEORI


Peserta didik adalah setiap manusia yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran pada jalur pendidikan baik pendidikan forformal maupun pendidikan nonformal, pada jenjang pendidikan dan jenis pendidikan tertentu. Peserta didik juga dikenal dengan istilah lain seperi Siswa, Mahasiswa, Warga Belajar, Palajar, Murid serta Santri. Guna bisa memberikan bimbingan konseling yang efektif kepada peserta didik. Tentunya terlebih dahulu para pendidik harus mengerti tentang dasar-dasar pemahaman peserta didik. Berikut hal-hal dasar yang harus dipahami oleh pendidik, calon pendidik maupun orang tua agar peserta didik bisa mengembangkan potensi yang dimilikinya secara maksimal.
2.1. Pengertian Individu Sebagai Kesatuan Berbagai Karakteristik
Untuk memahami karakteristik individu, perlu terlebih dahulu dipahami apa yang dimaksud dengan individu itu.
a. Pengertian Individu
"Manusia" adalah makhluk yang dapat dipandang dari berbagai sudut pandang. Sejak dulu manusia telah men¬jadi salah satu objek filsafat, baik objek formal yang mempersoalkan hakikat manusia maupun objek materiil yang mempersoalkan manusia sebagai apa adanya manusia dan dengan berbagai kondisinya. Sebagaimana dikenal adanya manusia sebagai makhluk yang berpikir "homo sapiens", makhluk yang berbentuk atau "homo faber", makhluk yang dapat dididik atau "homo educandum", dan seterusnya merupakan pandangan-pandangan tentang manusia yang dapat digunakan untuk menetapkan cara pendekatan yang akan dilakukan terhadap manusia tersebut. Berbagai pandangan itu membuktikan bahwa manusia yang makhluk yang kompleks. Kini bangsa Indonesia telah menganut suatu pandangan, bahwa yang dimaksud manusia secara utuh adalah manusia sebagai pribadi yang merupakan pengejawantahan manunggal¬,berbagai ciri atau karakter hakiki atau sifat kodrati manusia yang terdiri antar berbagai segi, yaitu antara segi (i) individu dan sosial, segi (ii) jasmani dan rohani, dan (iii) dunia dan akhirat. Keseimbangan tersebut menggambarkan keselarasan hubungan antara individu dengan dirinya, individu dengan sesama individu, individu dan alam sekitar atau lingkungannya, dan individu dengan Tuhan.
Uraian tentang individu dengan kedudukannya sebagai peserta didik; haruslah menempatkan individu tersebut sebagai pribadi yang utuh. Dalam kaitannya dengan kepentingan pendidikan, akan lebih ditekankan hakikat manusia sebagai kesatuan sifat makhluk individu dan makhluk sosial, sebagai kesatuan jasmani dan rohani, dan sebagai makhluk Tuhan dengan menempatkan hidupnya di dunia sebagai persiapan kehidupannya diakhirat. Sifat-sifat dan ciri-ciri tersebut merupakan hal yang secara mutlak disandang oleh manusia, sehingga setiap manusia pada dasarnya sebagai pribadi atau individu yang utuh. Individu berarti: tidak dapat dibagi (undivided), tidak dapat dipisahkan; keberadaannya sebagai makhluk yang pilah, tunggal, dan khas. Seseorang berbeda dengan orang lain karena ciri-cirinya yang khusus itu (Webster's, : 743). Menurut us Echols & Shadaly, individu adalah kata benda dari individual yang berarti orang, perseorangan, oknum (Echols, 1975: 519).
Berdasarkan pengertian tersebut dapat dibentuk suatu lingkungan untuk anak yang dapat merangsang perkembangan potensi-potensi yang dimilikinya dan akan membawa perubahan-perubahan apa saja yang diiginkan dalam kebiasaan dan sikap-sikapnya. Jadi anak dibantu oleh orang tua, dan orang dewasa lainnya untuk memanfaatkan kapapasitas potensi yang dibawanya dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang diinginkan.
2.2 Karakteristik Peserta Didik
Setiap individu memiliki ciri dan sifat atau karakteristik bawaaan (heredity) dan karakteristik yang diperoleh dari pengaruh lingkungannya. karakteristik bawaaan merupakan karakteristik keturunan yang dimiliki sejak lahir, baik yang menynagkut faktor biologis maupun faktor sosial psikologis. Pada masa lalu ada keyakinan, kepribadian terbawa pembawaaan (heredity) dan lingkungan; merupakan dua faktor yang terbentuk karena faktor terpisah, masing-masing mempengaruhi kepribadian dan kemampuan individu bawaan (heredity) dan lingkungan; merupakan dua faktor yang terbentuk karena faktor terpisah masing-masing mempengaruhi kepribadian dan kemampuan individu bawaan dan lingkungan dengan caranya sendiri-sendiri. Namun kemudian makin disadari bahwa apa yang dipikirkan dan dikerjakan seseorang, atau apa yang dirasakan oleh seorang anak, remaja atau dewasa, merupakan hasil dari perpaduan antara apa yang ada di antara faktor-faktor biologis yang diturunkan dan pengaruh lingkungan.
Karakteristik peserta didik adalah keseluruhan kelakuan dan kemampuan yang ada pada peserta didik sebagai hasil dari pembawaan dan lingkungan sosialnya sehingga menentukan pola aktivitas dalam meraih cita-cintanya. Dengan demikian, penentuan tujuan belajar itu sebenarnya harus dikaitkan atau disesuaikan dengan keadaan atau karakteristik peserta didik itu sendiri.
Nature dan nurture merupakan istilah yang biasa digunakan untuk menjelaskan karakteristik-karakteristik individu dalam hal fisik, mental dan emosional pada setiap tingkat perkembangan. Sejauhmana sesorang dilahirkan menjadi individu seperti “dia” atau sejauhmana seorang individu dipengaruhi subjek penelitian dan diskusi. Karakteristik yang berkaitan dengan perkembangan factor biologis cenderung lebih bersifat tetap, sedangkan karakteristik yang berkaitan dengan psikologis lebih banyak dipengaruhi oleh factor lingkungan.
Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam karakteristik peserta didik yaitu:
1. Karakteristik atau keadaan yang berkenaan dengan kemampuan awal atau Prerequisite skills, seperti misalnya kemampuan intelektual, kemampuan berfikir,mengucapkan hal-hal yang berkaitan dengan aspek psikomotor dan lainnya.
2. Karakteristik yang berhungan dengan latar belakang dan status sosial (socioculture)
3. Karakteristik yang berkenaan dengan perbedaan-perbedaan kepribadian seperti sikap, perasaan, minat dan lain-lain:
Pengetahuan mengenai karakteristik peserta didik ini memiliki arti yang cukup penting dalam interaksi belajar mengajar. Terutama bagi guru, informasi mengenai karakteristik peserta didik senantiasa akan sangat berguna dalam memilih dan menentukan pola-pola pengajaranyang lebih baik, yang dapat menjamin kemudahan belajarbagi setiap peserta didik.
Adapun Karakteristik Peserta Didik yang mempengaruhi kegiatan belajar peserta didik antara lain:
1. Kondisi fisik
2. Latar belakang pengetahuan dan taraf pengetahuan
3. Gaya belajar
4. Usia
5. Tingkat kematangan Ruang lingkup minat dan bakat
6. Lingkungan sosial ekonomi dan budaya
7. Faktor emosional
8. Faktor komunikasi
9. Intelegensia
10. Keselaran dan attitude
11. Prestasi belajar
12. Motivasi dan lain-lain.
2.3 Aspek-Aspek Pertumbuhan dan Perkembangan Individu
Dalam banyak buku, makna pertumbuhan sering diartikan sama dengan perkembangan sehingga kedua istilah itu penggunaannya seringkali dipertukarkan (interchange) untuk makna yang sama. Ada penulis yang suka menggunakan istilah pertumbuhan saja dan ada yang suka menggunakan istilah perkembangan saja. Dalam buku ini istilah pertumbuhan diberi makna dan digunakan untuk menyatakan perubahan¬-perubahan ukuran fisik yang secara kuantitatif semakin besar dan atau panjang, sedang istilah perkembangan diberi makna dan digunakan untuk menyatakan terjadinya pcrubahan-perubahan aspek psikologis dan aspek sosial.
Sejak lahir, bahkan sejak masih di dalam kandungan ibunya, manusia merupakan kesatuan psikofisis atau psikosomatis yang terus mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan dan perkembangan itu merupakan sifat kodrat manusia yang harus mendapat perhatian secara saksama. Mengingat pentingnya makna pertumbuhan dan perkembangan ini, maka persoalan yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan akan dijelaskan secara khusus di bagian lain. Untuk memberi gambaran bahwa makna pertumbuhan dibedakan dari makna perkembangan, secara singkat disajikan yaitu bahwa istilah pertumbuhan digunakan untuk menyatakan perubahan-perubahan kuantitatif mengenai fisik atau biologis dan istilah perkembangan digunakan untuk pcrubahan-perubahan kualitatif mengenai aspek psikis atau rohani dan aspek sosial.
Setiap individu pada hakikatnya akan mengalami pertumbuhan fisik dan perkembangan nonfisik yang meliputi aspek-aspek intelek, emosi, sosial, bahasa, bakat khusus, nilai dan moral, serta sikap. Berikut ini diuraikan pokok-pokok pertumbuhan dan perkembangan aspek-aspek tersebut.
1. Pertumbuhan Fisik
Pertumbuhan manusia merupakan perubahan fisik menjadi lebih besar dan lebih panjang, dan prosesnya terjadi sejak anak sebelum lahir hingga ia dewasa. Berikut uraian tentang pertumbuhan fisik manusia:
a. Pertumbuhan Sebelum Lahir
Manusia itu ada dimulai dari suatu proses pembuahan (pertemuan set telur dan sperma) yang membentuk suatu set kehidupan, yang disebut embrio. Embrio manusia yang telah berumur satu bulan, berukuran sekitar setengah sentimeter. Pada umur dua bulan ukuran embrio itu membesar menjadi dua setengah sentimeter dan disebut janin atau "fetus". Baru setelah satu bulan kemudian (jadi kandungan telah berumur tiga bulan), janin atau fetus tersebut telah berbentuk menyerupai bayi dalam ukuran kecil.
Masa sebelum lahir merupakan pertumbuhan dan perkembangan manusia yang sangat kompleks, karena pada masa itu merupakan awal terbentuknya organ-organ tubuh dan tersusunnya jaringan saraf yang membentuk sistem yang lengkap. Pertumbuhan dan perkembangan janin diakhiri saat kelahiran. Kelahiran pada dasarnya merupakan pertanda kematangan biologis dan jaringan saraf masing-masing komponen biologis telah mampu berfungsi secara mandiri.
b. Petumbuhan Setelah Lahir
Pertumbuhan fisik manusia setelah lahir merupakan kelanjutan pertumbuhannya sebelum lahir. Proses pertumbuhan fisik manusia berlangsung sampai masa dewasa. Selama tahun pertama dalam pertumbuhannya, ukuran panjang badannya akan bertambah sekitar sepertiga dari panjang badan semula dan berat badannya akan bertambah menjadi sekitar tiga kalinya. Sejak lahir sampai dengan umur,25 tahun, perbandingan ukuran badan individu, dari pertumbuhan yang kurang proporsional pada awal terbentuknya manusia (kehidupan sebelum lahir atau pranatal) sampai dengan proporsi yang ideal di masa dewasa.
setiap bagian fisik seseorang individu akan terus mengalami perubahan karena pertumbuhan, sehingga masing-masing komponen tubuh akan mencapai tingkat kematangan untuk menjalankan fungsinya. Jaringan saraf otak atau saraf sentral akan tumbuh dengan cepat karena saraf pusat itu akan menjadi sentral dalam menjalankan fungsi jaringan saraf di seluruh tubuh manusia.
Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Fisik
Penyebab perubahan pada masa remaja adalah adanya dua kelenjar yang menjadi aktif bekerja dalam sistem endokrin. Kelenjar pituitari yang terletak di dasar otak mengeluarkan dua macam hormon yang diduga erat ada hubungannya dengan perubahan pada masa remaja. Kedua hormon itu adalah hormon pertumbuhan yang menyebabkan terjadinya perubahan ukuran tubuh dan hormon gonadotropik atau sering disebut hormon yang merangsang gonad - yaitu merangsang gonad agar mulai aktif bekerja. Tidak berapa lama sebelum saat remaja dimulai, kedua hormon ini sudah mulai diproduksi dan pada saat remaja semakin banyak dihasilkan. Seluruh proses ini dikendalikan oleh perubahan yang terjadi dalam kelenjar endokrin. Kelenjar ini diaktiflcan oleh rangsangan yang dilakukan kelenjar hypothalamus, yaitu kelenjar yang dikenal sebagai kelenjar untuk merangsang pertumbuhan pada saat remaja dan terletak di otak.
Meskipun kelenjar gonad atau kelenjar kelamin sudah ada dan aktif sejak seorang dilahirkan, namun kelenjar ini seolah-olah tidur dan baru akan aktif setelah diaktifkan oleh hormon gonadotropik dari kelenjar pituitari pada saat si anak memasuki tahap remaja. Segera setelah ter¬capai kematangan alat kelamin, maka hormon gonad akan menghentikan aktivitas hormon pertumbuhan. Dengan demikian, pertumbuhan fisik akan terhenti. Keseimbangan yang tepat yang tercipta antara kelenjar pituitari dan gonad menimbulkan perkembangan fisik yang tepat pula. Sebaliknya bila terjadi gangguan dalam keseimbangan ini, maka akan timbul penyimpangan pertumbuhan.
Selama masa remaja, seluruh tubuh mengalami perubahan, baik di bagian luar maupun di bagian dalam tubuh, baik perubahan struktur tubuh maupun fungsinya. Pada kenyataannya hampir semua bagian tubuh perubahannya mengikuti irama yang tetap, sehingga waktu ke-jadiannya dapat diperkirakan sebelumnya. Perubahan tersebut tampak jelas sekali pada bagian pertama masa remaja. Kondisi yang dapat mempengaruhi pertumbuhan fisik adalah:
1. Pengaruh keluarga
2. Pengaruh gizi
3. Gangguan emosional
4. Jenis kelamin
5. Status sosial ekonomi
6. Kesehatan
7. Bentuk tubuh
2. Pertumbuhan dan perkembangan Intelektual
Intelek atau daya pikir berkembang sejalan dengan pertumbuhan saraf otak. Karena pikiran pada dasarnya menunjukkan kemampuan otak dalam merespon stimulus yang ada. Menurut English & English dalam bukunya "A Comprehensive Dictionary of Psychological and Psychoanalitical Terms", istilah intellect berarti antara lain:
1). kekuatan mental di mana manusia dapat berpikir;
2). suatu rumpun nama untuk proses kognitif, terutama untuk aktivitas yang berkenaan dengan berpikir (misalnya menghubung¬kan, menimbang, dan memahami); dan
3). kecakapan, terutama kecakapan yang tinggi untuk berpikir; (bandingkan dengan intelligence. Intelligence = intellect).
Sedangkan Menurut kamus Webster New World Dictionary of the Ameri¬can Language, istilah intellect berarti :
1) kecakapan untuk berpikir, mengamati atau mengerti; kecakapan untuk mengamati hubungan-hubungan, perbedaan-perbedaan, dan sebagainya. Dengan demikian kecakapan berbeda dari kemauan dan perasaan,
2) kecakapan mental yang besar, sangat intelligence, dan
3) pikiran atau inteligensi.
Istilah inteligensi telah banyak digunakan, terutama di dalam bidang psikologi dan pendidikan, namun secara definitif istilah itu tidak mudah dirumuskan. Banyak rumusan tentang inteligensi, seperti yang dikemukakan oleh Singgih Gunarsa dalam bukunya Psikologi Remaja (1991), ia mengajukan beberapa rumus inteligensi salah satunya adalah sebagai berikut: “Inteligensi merupakan suatu kumpulan kemampuan seseorang yang memungkinkan memperoleh ilmu pengetahuan dan mengamalkannya”
3. Perkembangan Emosi
Emosi merupakan gejala perasaan disertai dengan perubahan sikap atau perilaku fisik. Seperti marah yang ditunjukkan dengan teriakan Kehidupan seseorang pada umumnya penuh dorongan dan minat untuk mencapai atau memiliki sesuatu. perilaku seseorang dan munculnya berbagai kebutuhan disebabkan oleh berbagai dorongan dan minat. Seberapa banyak dorongan¬-dorongan dan minat-minat seseorang itu terpenuhi merupakan dasar dari pengalaman emosionalnya. Perjalanan kehidupan tiap-tiap orang tidak selalu sama. Kehidupan mereka masing-masing berjalan menurut polanya sendiri-sendiri.
Perbuatan atau perilaku kita sehari-hari pada umumnya disertai oleh perasaan-perasaan tertentu, seperti perasaan senang atau tidak senang. Perasaan senang atau tidak senang yang terlalu menyertai perbuatan-perbuatan kita sehari-hari disebut warna afektif. Warna afek¬tif ini kadang-kadang kuat, kadang-kadang lemah, atau kadang-kadang tidak jelas (samar-samar). Dalam hal warna afektif tersebut kuat, maka perasaan-perasaan menjadi lebih mendalam, lebih luas, dan lebih terarah. Perasaan-perasaan seperti ini disebut emosi (Sarlito, 1982: 59). Di samping perasaan senang atau tidak senang, beberapa contoh macam emosi yang lain adalah gembira, cinta, marah, takut, cemas, dan benci.
Emosi dan perasaan adalah dua hal yang berbeda. Tetapi perbedaan antara keduanya tidak dapat dinyatakan dengan tegas. Emosi dan perasaan merupakan suatu gejala emosional yang secara kualitatif berkelanjutan, akan tetapi tidak jelas batasnya. Pada suatu saat suatu warna afektif dapat dikatakan sebagai perasaan, tetapi juga dapat dikatakan sebagai emosi; contohnya marah yang ditunjukkan dalam bentuk diam. Jadi sukar sekali kita mendefinisikan emosi.
Seseorang yang pola kehidupannya berlangsung mulus, di mana dorongan-dorongan dan keinginan-keinginan atau minatnya dapat terpenuhi atau dapat berhasil dicapai, ia (mereka) cen¬derung memiliki perkembangan emosi yang stabil dan dengan demikian dapat menikmati hidupnya. Tetapi sebaliknya, jika dorongan dan ke¬inginannya tidak berhasil terpenuhi, baik hal itu disebabkan kurangnya kemampuan untuk memenuhinya atau karena kondisi lingkungan yang kurang menunjang, sangat dimungkinkan perkembangan emosionalnya mengalami gangguan.
Masa remaja merupakan puncak emosionalitas. Pertumbuhan organ-organ seksual mempengaruhi munculnya emosi atau perasaan-perasaan baru seperti rasa cinta, rindu, keinginan untuk mencoba hal-hal yang baru dan sebagainya. Oleh karenanya pada masa ini emosi remaja cenderung labil. para pendidik, dan orang tua memiliki peran yang besar untuk mengarahkan mereka sehingga tidak terjerumus kearah negative.
Seiring berjalannya waktu, seseorang individu dalam merespon sesuatu lebih banyak diarah¬kan oleh penalaran dan pertimbangan-pertimbangan objektif. Akan tetapi pada saat-saat tertentu di dalam kehidupannya, dorongan emosional banyak campur tangan dan mempengaruhi pemikiran-pemikiran dan tingkah lakunya. Oleh karena itu, untuk memahami remaja, memang perlu mengetahui apa yang ia lakukan dan pikirkan. Di samping itu hal yang lebih penting untuk diketahui adalah apa yang mereka rasakan. Makin banyak kita dapat memahami dunia remaja seperti apa yang mereka alami, makin perlu kita melihat ke dalam kehidupan emosional¬nya dan memahami perasaan-perasaannya, baik perasaan tentang dirinya sendiri maupun tentang orang lain. Gejala-gejala emosional seperti marah, takut, bangga dan rasa malu, cinta dan benci, harapan-harapan dan rasa putus asa, perlu dicermati dan dipahami dengan baik.
4. Perkembangan Sosial
Pada masa remaja perkembangan social cognition atau kemampuan untuk memahami orang lain mulai berkembang pesat. Kemampuan ini mendorong remaja untuk menjalin hubungan social dengan eman sebayanya, serta mulai menjalin kedekatan dengan lawan jenisnya. Pada masa ini juga ditandai dengan berkembangnya sikap conformity yaitu kecenderungan untuk meniru orang lain. Maka, tidak mengeherankan jika banya remaja yang meniru gaya artis idolanya disekolah. Sebagai Pendidik kita harus memberikan pengertian tentang hal ini dan membantu mereka agar bisa menemukan jati diri mereka sendiri.
5. Perkembangan Bahasa
Sesuai dengan fungsinya, bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh seseorang dalam pergaulannya atau hubungannya dengan orang lain. Bahasa merupakan alat bergaul. Oleh karena itu, penggunaan bahasa menjadi efektif sejak seorang individu memerlukan berkomunikasi dengan orang lain. Sejak seorang bayi mulai berkomu¬nikasi dengan orang lain, sejak itu pula bahasa diperlukan. Sejalan dengan perkembangan hubungan sosial, maka perkembangan bahasa seseorang (bayi-anak) dimulai dengan meraba (suara atau bunyi tanpa arti) dan diikuti dengan bahasa satu suku kata, dua suku kata, menyusun kalimat sederhana, dan seterusnya melakukan sosialisasi dengan meng¬gunakan bahasa yang kompleks sesuai dengan tingkat perilaku sosial.
Perkembangan bahasa terkait dengan perkembangan kognitif, yang berarti faktor intelek/kognisi sangat berpengaruh terhadap per¬kembangan kemampuan berbahasa. Bayi, tingkat intelektualnya belum berkembang dan masih sangat sederhana. Semakin bayi itu tumbuh dan berkembang serta mulai mampu memahami lingkungan, maka bahasa mulai berkembang dari tingkat yang sangat sederhana rnenuju ke bahasa yang kompleks. Perkembangan bahasa dipengar.uhi oleh lingkungan, karena bahasa pada dasarnya merupakan hasil belajar dari lingkungan. Anak (bayi) belajar bahasa seperti halnya belajar hal yang lain,"meniru" dan "mengulang" hasil yang telah didapatkan merupakan cara belajar bahasa awal. Bayi bersuara,"mmm mmm", ibunya tersenyumn dan mengulang menirukan dengan memperjelas arti suara itu menjadi "maem¬maem". Bayi belajar menambah kata-kata dengan meniru bunyi-bunyi yang didengarkannya. Manusia dewasa (terutama ibunya) di sekelilingnya membetulkan dan memperjelas. Belajar bahasa yang sebenarnya baru dilakukan oleh anak berusia 6-7 tahun, di saat anak mulai bersekolah. Jadi, perkembangan bahasa adalah meningkatnya kemampuan pe¬nguasaan alat berkomunikasi, baik alat komunikasi dengan cara lisan, tertulis, maupun menggunakan tanda-tanda dan isyarat. Mampu dan menguasai alat komunikasi di sini diartikan sebagai upaya seseorang untuk dapat memahami dan dipahami orang lain.
Bahasa remaja adalah bahasa yang tengah berkembang dikalangan remaja. Anak remaja telah banyak belajar dari lingkungan, dan dengan demikian bahasa remaja terbentuk oleh kondisi lingkungan. Lingkungan remaja mencakup lingkungan keluarga, masyarakat, dan khususnya pergaulan. Bahasa remaja selalu berubah-ubah (sangat dinamis) biasanya sangat dipengaruhi oleh tren yang sedang marak saat itu.
6. Perkembangan Nilai, Moral, dan Sikap
Dapatkah nilai-nilai hidup dipelajari? Kalau dapat dipelajari se¬bagai satu ilmu atau sebagai pengetahuan, apakah pengetahuan tentang nilai-nilai hidup itu dapat seketika membuat orang mau dan mampu bertindak/bertingkah laku sesuai dengan apa yang diketahuinya?
Antara pengetahuan dan tindakan ternyata tidak selalu terjadi korelasi positif yang tinggi (Surakhmad, 1980: 9). Proses pertumbuhan dan kelanjutan pengetahuan. menuju bentuk sikap dan tingkah laku adalah proses kejiwaan yang musykil. Seorang individu yang pada waktu tertentu melakukan perbuatan tercela ternyata melakukannya tidak selalu karena ia tidak mengetahui bahwa perbuatan itu tercela, atau tidak sesuai dengan norma-norma masyarakat.
Berbuat sesuatu secara fisik adalah satu bentuk tingkah laku yang mudah dilihat dan diukur. Tetapi tingkah laku tidak terdiri atas perbuatan yang tampak saja. Di dalamnya tercakup juga sikap mental yang tidak selalu mudah ditanggapi, kecuali secara tidak langsung, misalnya melalui ucapan atau perbuatan yang diduga dapat meng¬gambarkan sikap mental tersebut, bahkan secara tidak langsung pun ada kalanya cukup sulit untuk menarik kesimpulan yang teliti.
Untuk lebih jelasnya berikut ini akan diuraikan pengertian dan saling:keterkaitan antara nilai, moral dan sikap, serta pengaruhnya terhadap tingkah laku.
1. Pengertian dan Saling Keterkaitan Antara Nilai, Moral, dan Sikap serta Pengaruhnya terhadap Tingkah Laku
Nilai-nilai kehidupan adalah norma-norma yang berlaku dalam masyarakat, misalnya adat kebiasaan dan sopan santun (Sutikna, 1988, 5). Sopan santun, adat, dan kebiasaan serta nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila adalah nilai-nilai hidup yang menjadi pegangan sese-orang dalam kedudukannya sebagai warga negara Indonesia dalam hubungan hidupnya dengan negara serta dengan sesama warga negara. Apakah ia seorang petani atau ahli ruang angkasa, apakah ia pria atau wanita, apakah ia pemimpin dalam pemerintahan ataukah ia warga negara biasa, apakah ia beragama Islam atau beragama lainnya, sebagai warga negara Indonesia ia harus berpedoman pada nilai-nilai luhur yang terkandung dalam pancasila tersebut, demikian halnya dengan para remaja. mereka hendaknya harus bisa:
1) mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan persamaan kewajiban antara sesama manusia,
2) mengembangkan sikap tenggang rasa, dan
3) tidak semena-mena terhadap orang lain, berani membela kebenaran dan keadilan, dan sebagainya.
Dalam kaitannya dengan pengamalan nilai-nilai hidup, maka moral merupakan kontrol dalam bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan nilai-nilai hidup yang dimaksud. Misalnya dalam pengamalan nilai hidup: tenggang rasa, dalam perilakunya seseorang akan selalu memperhatikan kepentingan umum disbanding kepentingan pribadi.
Moral sendiri dapat didefinisikan sebagai ajaran tentang baik buruk perbuatan dan kelakuan, akhlak, kewajiban, dan sebagainya (Purwadarminto, 1957: 957). Dalam moral diatur segala perbuatan yang dinilai baik dan perlu dilakukan, dan suatu perbuatan yang dinilai tidak baik dan perlu dihindari. Moral berkaitan dengan kemampuan untuk, membedakan antara perbuatan yang benar dan yang salah: Dengan demikian, moral merupakan kendali dalam bertingkah laku.
2.4 Kebutuhan Peserta Didik
Pemenuhan kebutuhan siswa disamping bertujuaan untuk memberikan materi kegiatan setepat mungkin, juga materi pelajaran yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan biasanya menjadi lebih menarik. Dengan demikian akan membantu pelaksanaan proses belajar-mengajar. Adapun yang menjadi kebutuhan siswa antara lain :
1. Kebutuhan Jasmani
Adalah kebutuhan yang meliputi unsur-unsur jasmaniah seperti pakaian,makanan,dan sebagainya.
2. Kebutuhan Rohaniah
Yaitu kebutuhan yang berguna bagi manusia secara rohaniah misalnya ceramah agama, pengajian, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan keagamaan.
3. Kebutuhan Sosial
Yaitu Pemenuhan keinginan untuk saling bergaul sesasama peserta didik dan Pendidik serta orang lain. Dalam hal ini sekolah harus dipandang sebagai lembagatempat para siswa belajar, beradaptasi, bergaul sesama teman yang berbeda jenis kelamin, suku bangsa, agama, status sosial dan kecakapan.
4. Kebutuhan Intelektual
Setiap siswa tidak sama dalam hal minat untuk mempelajari sesuatu ilmu pengetahuan. Dan peserta didik memiliki minat serta kecakapan yang berbeda beda. Untuk mengembangkannya bisa ciptakan pelajaran-pelajaran ekstra kurikuler yang dapat dipilih oleh siswa dalam rangkan mengembangkan kemampuan intelektual yang dimilikinya.
Selain itu, ada juga yang disebut kebutuhan fisik dan psikologis. Dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya -menuju ke jenjang kedewasaan, kebutuhan hidup seseorang mengalami perubahan¬-perubahan sejalan dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangannya. Kebutuhan sosial psikologis semakin banyak dibandingkan dengan ke¬butuhan fisik, karena pengalaman kehidupan sosialnya semakin luas. Kebutuhan itu timbul disebabkan oleh dorongan-dorongan (motif). Dorongan adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorongnya untuk melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu (Sumadi, 1971: 70; Lefton, 1982: 137). Dorongan dapat berkembang karena kebutuhan psikologis atau karena tujuan-tujuan kehidupan yang semakin kompleks. Lebih lanjut Lefton (1982) menyatakan bahwa ke¬butuhan dapat muncul karena keadaan psikologis yang mengalami goncangan atau ketidakseimbangan. Munculnya kebutuhan tersebut untuk mencapai keseimbangan atau keharmonisan hidup.
Kebutuhan juga dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu ke¬butuhan primer dan kebutuhan sekunder. Kebutuhan primer pada hakikatnya merupakan kebutuhan biologis atau organik dan umumnya merupakan kebutuhan yang didorong oleh motif asli. Contoh kebutuhan primer itu antara lain adalah : makan, rninum, bernapas, dan kehangatan tubuh. Pada tingkat remaja dan dewasa kebutuhan primer ini dapat bertambah, yaitu kebutuhan seksual. Sedangkan kebutuhan sekunder umurnnya menapakan kebutuhan yang didorong oleh motif yang dipelajari, seperti misalnya kebutuhan untuk mengejar pengetahuan, kebutuhan untuk mengikuti pola hidup bermasyarakat, kebutuhan akan hiburan, alat transportasi, dan semacamnya. Klasifikasi kebutuhan menjadi kebu¬tuhan primer dan kebutuhan sekunder sering digunakan, namun peng klasifikasian semacam itu sering membingungkan. Oleh karena itu, Cole dan Bruce (1959) (Oxendine, 1984: 227) membedakan kebutuhan menjadi dua kelompok, yaitu kebutuhan fsiologis dan kebutuhan psikologis. Pengelompokan ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Murray (1938) (Oxendine, 1984: 227) yang diajukan dengan istilah yang berbeda, yaitu kebutuhan viscerogenic dan kebutuhan psycho¬genic. Beberapa contoh kebutuhan-kebutuhan fisiologis adalah: makan¬ minum, istirahat, seksual, perlindungan diri. Sedang kelompok kebutuhan psikologis, seperti yang dikemukakan Maslow (1943) mencakup (i) kebutuhan untuk memiliki sesuatu, (ii) kebutuhan akan cinta dan kasih sayang, (iii) kebutuhan akan keyakinan diri, dan (iv) kebutuhan aktualisasi diri. Dalam perkernbangan kehidupan yang semakin kompleks, pemi¬sahan jenis kebutuhan yang didorong oleh motif asli dan motif-motif yang lain semakin sukar dibedakan.



2.5 Tugas Perkembangan Peserta Didik
2.5.1 Tugas Perkembangan Peserta Didik Dalam Kehidupan Pribadi
Kehidupan pribadi sukar untuk dirumuskan, ia amat kompleks dan unik. Pada hakikatnya manusia merupakan pribadi yang utuh dan rnemiliki sifat-sifat sebagai makhluk individu dan malkhluk sosial. Dalam kedudukannya sebagai makhluk individu, seseorang menyadari bahwa dalam kehidupannya memiliki kebutuhan yang diperuntukkan bagi kepentingan diri pribadi, baik fisik maupun nonfisik. Ketbutuhan diri pribadi tersebut meliputi kebutuhan fisik dan kebutuhan sosio-psikologis. Dalam pertumbuhan fisiknya, manusia memerlukan kekuatltan dan daya tahan tubuh serta perlindungan keamanan fisiknya. Kondisi fisik amat penting dalam perkembangan dan pembentukan pribadi seoseorang.
Kehidupan pribadi seseorang individu merupakan kehidupan yang utuh dan lengkap dan memiliki ciri khusus dan unik. Kehidupan pribadi seseorang menyangkut berbagai aspek, antara lain aspek emosional, sosial psikologis dan sosial budaya, dan kemampuan intelektual yang terpadu secara integratif dengan faktor lingkungan kehidupan. Pada awal kehidupannya dalam rangka menuju pola kehidupan pribadi yang lebih mantap, seorang individu berupaya untuk mampu mandiri, dalam arti mampu mengurus diri sendiri sampai dengan mengatur dan memenuhi kebutuhan serta tugasnya sehari-hari. Untuk itu diperlukan penguasaan situasi untuk menghadapi berbagai rangsangan`yang dapat mengganggu kestabilan pribadinya.
Kekhususan kehidupan pribadi bermakna bahwa segala kebutuhan dirinya memerlukan pemenuhan dan terkait dengan masalah-masalah yang tidak dapat disamakan dengan individu yang lain. Oleh karenanya, setiap pribadi akan dengan sendirinya menampakkan ciri yang khas yang berbeda dengan pribadi yang lain. Di samping itu, dalam kehidupan ini diperlukan keserasian antara kebutuhan fisik dan nonfisiknya. Kebutuhan fisik tiap orang perlu pemenuhan, misalnya seseorang perlu bemapas dengan lega, perlu makan enak dan cukup, perlu kenikmatan, dan perlu keamanan. Berkaitan dengan aspek sosio-psikologis, setiap pribadi membutuhkan kemarnpuan untuk menguasai sikap dan emosinya serta sarana komunikasi untuk bersosialisasi. Hal itu semua akan tampak secara utuh dan lengkap dalam bentuk perilaku dan perbuatan yang mantap. Dengan demikian, masalah kehidupan pribadi merupakan bentuk integrasi antara faktor fisik, sosial budaya, dan faktor psikologis. Di samping itu, seorang individu juga membutuhkan pengakuan dari pihak lain tentang harga dirinya, baik dari keluarganya sendiri maupun dari luar keluarganya. Tiap orang mempunyai harga diri dan berkeinginan untuk selalu mempertahankan harga diri tersebut.
2.5.2 Tugas Perkembangan Peserta Didik dalam Kehidupan Pendidikan dan Karier
Mengapa manusia belajar dan bekerja? Pada hakikatnya manusia selalu ingin tahu, dengan demikian ia (mereka) selalu berupaya mengejar pengetahuan. Atas dasar hakikat inilah maka manusia senantiasa terus betajar, mencari tahu banyak hal. Banyak bangsa yang mengikuti prinsip pendidikan (belajar) seumur hidup, yang artinya adalah manusia itu senantiasa terus belajar sepanjang hayatnya.
Kehidupan pendidikan merupakan pengalaman proses belajar yang dihayati sepanjang hidupnya, baik di dalam jalur pendidikan sekolah maupun luar sekolah. Berkaitan dengan perkembangan peserta didik, kehidupan pendidikan yang dimaksud baik yang dialami oleh remaja sebagai peserta didik di dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan atau kehidupan masyarakat. Sedang kehidupan karier merupakan pengalaman seseorang di dalam dunia kerja. Seperti dikatakan oleh Garrison (1956) bahwa setiap tahun di dunia ini terdapat jutaan pemuda dan pemudi memasuki dunia kerja. Peristiwa seseorang rernaja masuk ke dunia kerja itu merupakan awal pengalamannya dalam kehidupan berkarya (berkarier). Pada hakikatnya kehidupan anak (remaja) di dalam pen¬didikan merupakan awal kehidupan kariemya. Baik di dalam kehidupan pendidikan maupun kehidupan karier, para remaja memperoleh penga¬laman yang menggambarkan adanya pasang surut.
2.5.3 Tugas Perkembangan Remaja Berkenaan dengan Kehidupan Berkeluarga
Sebagaimana telah diuraikan di depan bahwa secara biologis pertumbuhan remaja telah mencapai kematangan seksual, yang berarti bahwa secara biologis remaja telah siap melakukan fungsi produksi. Kematangan fungsi seksual tersebut berpengaruh terhadap dorongan seksual remaja dan telah mulai tertarik kepada lawan jenis. Garrison (1956) menyatakan bahwa dorongan seksual pada masa remaja adalah cukup kuat, sehingga perlu dipersiapkan secara mantap tentang hal-hal yang berhubungan dengan perkawinan, karena masalah tersebut mendasari pemikiran mereka untuk mulai menetapkan pasangan hidupnya. Untuk ini sekolah perlu memberikan perhatian secara khusus tentang masalah-masalah perkawinan tersebut, dalam bentuk pendidikan seksual atau kegiatan yang lain bagi remaja sebagai persiapan baginya dalam menghadapi fungsinya sebagai orang tua di kemudian hari.
Berkenaan dengan upaya untuk menetapkan pilihan pasangan hidup, perkembangan sosial psikologis remaja ditandai dengan upaya menarik lawan jenis dengan berbagai cara yang ditunjukkan dalam bentuk perilaku. Remaja laki-laki berupaya untuk mencapai posisi prestasi akademik dan atletik (bidang olah raga) yang baik, sebab kedua hal itu merupakan gejala yang "dinilai" sebagai pertanda unggul dan menunjukkan kehebatan di antara sesama laki-laki. Sebaliknya bagi remaja wanita berupaya untuk menjadi "seorang wanita" yang baik. Upaya menjadi wanita yang baik itu diartikan sebagai " wanita yang dikenal baik" di mata laki-laki, maka seorang gadis perlu berperilaku "baik" sebagaimana "diharapkan oleh laki-laki".
2.6 Implikasi Tugas-Tugas Perkembangan Remaja dalam Penyelenggaraan Pendidikan
Memperhatikan banyaknya faktor kehidupan yang berada di lingkungan remaja, maka pemikiran tentang penyelenggaraan pendidikan juga harus memperhatikan faktor-faktor tersebut. Sekalipun dalam penyelenggaraan pendidikan diakui bahwa tidak mungkin memenuhi tuntutan dan harapan seluruh faktor yang berlaku tersebut.
a. Pendidikan yang berlaku di Indonesia, baik pendidikan yang di¬selenggarakan di dalam sekolah maupun di luar sekolah, pada umumnya diselenggarakan dalam bentuk klasikal. Penyelenggaraan pendidikan klasikal ini berarti memberlakukan sama semua tindakan pendidikan kepada semua remaja yang tergabung di dalam kelas, sekalipun masing-masing di antara mereka sangat berbeda-beda. Pengakuan terhadap kemampuan setiap pribadi yang beranekaragam itu menjadi kurang. Oleh karena itu, yang harus mendapatkan perhatian di dalam penyelenggaraan pendidikan adalah sifat-sifat dan kebutuhan umum remaja, seperti pengakuan akan kemampuannya, ingin untuk mendapatkan kepercayaan, kebebasan, dan semacamnya.
b. Beberapa usaha yang perlu dilakukan di dalam penyelenggaraan pendidikan, sehubungan dengan minat dan kemampuan remaja yang dikaitkan terhadap cita-cita kehidupannya antara lain adalah:
1) Bimbingan karier dalam upaya mengarahkan siswa untuk menentukan pilihan jenis pendidikan dan jenis pekerjaan sesuai dengan kemampuannya.
2) Memberikan latihan-latihan praktis terhadap siswa dengan ber¬orientasi kepada kondisi (tuntutan) lingkungan.
3) Penyusunan kurikulum yang komprehensif dengan mengem¬bangkan kurikulum muatan lokal.
c. Keberhasilan dalam memilih pasangan hidup untuk membentuk keluarga banyak ditentukan oleh pengalaman dan penyelesaian tugas-tugas perkembangan masa-masa sebelumnya. Untuk me¬ngembangkan model keluarga yang ideal maka perlu dilakukan:
1) Bimbingan tentang cara pergaulan dengan mengajarkan etika pergaulan lewat pendidikan budi pekerti dan pendidikan keluarga.
2) Bimbingan siswa untuk memahami norma yang berlaku baik di dalam keluarga, sekolah, maupun di dalam masyarakat. Untuk kepentingan ini diperlukan arahan untuk kebebasan emosional dari orang tua.






BAB 3
PEMBAHASAN

3.1 Permasalahan-Permasalahan Penyesuaian Diri Peserta Didik
Di antara persoalan terpentingnya yang dihadapi remaja dalam kehidupan sehari-hari dan yang menghambat penyesuaian diri yang sehat adalah hubungan remaja dengan orang dewasa terutama orang tua. Tingkat penyesuaian diri dan pertumbuhan remaja sangat ter¬gantung pada sikap orang tua dan suasana psikologi dan sosial dalam keluarga. Contoh: Sikap orang tua yang menolak. Penolakan orang tua terhadap anaknya dapat dibagi menjadi dua macam. Pertama, penolakan mungkin merupakan penolakantetap sejak awal, di mana orang tua merasa tidak sayang kepada anaknya, karena berbagai sebab, mereka tidak menghendaki kelahirannya. Menurut Boldwyn yang dikutip oleh Zakiah Darajat (1983): "Bapak yang menolak:anaknya berusaha menundukkan anaknya dengan kaidah-kaidah kekerasan; karena itu ia mengambil ukuran kekerasan, kekejaman tanpa alasan nyata." Jenis kedua, dari penolakan adalah dalam bentuk berpura-pura tidak tahu keinginan anak. Contoh: orang tua memberi tugas kepada anaknya berbarengan dengan rencana anaknya untuk pergi nonton bersama dengan sejawatnya.
Hasil dari kedua macam penolakan tersebut ialah remaja tidak dapat menyesuaikan diri, cenderung untuk menghabiskan waktunya di luar rumah. Tenatama pada gadis-gadis mungkin akan terjadi perkawinan yang tidak masuk akal dengan pemikiran bahwa rumah di luar rumah tangganya sendiri akan lebih baik daripada rumahnya sendiri. Di samping itu, sikap orang tua yang memberikan perlindungan yang berlebihan akibatnya juga tidak baik. Rernaja yang mendapatkan pemeliharaan yang berlebihan, menyebabkan ia juga mengharapkan bantuan dan per¬hatian dari orang lain dan ia berusaha menarik perhatian mereka, serta menyangka bahwa perhatian seperti itu ada(ah haknya.
Sikap orang tua yang otoriter, yaitu yang memaksakan kekuasaan dan otoritas kepada remaja juga akan menghambat proses penyesuaian diri remaja. Biasanya remaja berusaha untuk menentang kekuasan orang tua dan pada gilirannya ia akan cenderung otoriter terhadap teman-temannya dan cenderung menentang otoritas yang ada baik di sekolah maupun di masyarakat. .
Permasalahan-permasalahan penyesuaian diri yang dihadapi remaja dapat berasal dari suasana psikologis keluarga seperti keretakan keluarga. Banyak penelitian membuktikan bahwa remaja yang hidup di dalam rumah tangga yang "retak", mengalami masalah emosi, tampak padanya ada kecenderungan yang besar untuk marah, suka menyendiri, di samping kurang kepekaan terhadap penerimaan sosial dan kurang mampu menahan diri serta lebih gelisah dibandingkan dengan remaja yang hidup dalam rumah tangga yang wajar. Terbukti pula bahwa kebanyakan anak-anak yang dikeluarkan dari sekolah karena tidak dapat menyesuaikan diri adalah mereka yang datang dari rumah tangga yang pecah/retak itu.
Perbedaan perlakuan antara anak laki-laki dan anak perempuan akan mempengaruhi hubungan antar mereka, sehingga memungkinkan timbulnya rasa iri hati dalam jiwa anak perempuan terhadap saudaranya yang laki-laki. Keadaan ini akan menghambat proses penyesuaian diri anak perempuan. Permasalahan-permasalahan penyesuaian akan rnuncul bila hal ini terus dibiarkan. Berikut ini beberapa masalah yang sering dihadapi peserta didik aklbat penyesuaian yang kurang baik:
1.Masalah pribadi diantaranya:
a. Kurang motivasi untuk mempelajari agama.
b. Kurang bmemahami agama sebagai pedoman hidup.
c. Kurang menyadari bahwa setiap perbuatan manusia diawasi Tuhan
d. Masih merasa malas melaksanakan shalat
e. Kurang memiliki kemampuan untuk bersabar dan bersyukur
f. Masih memiliki kebiasaan berbohong
g. Masih memiliki kebiasaan menyontek
h. Kurang disiplin
i. Masih kurang mampu menghadapi situasi frustasi
j. Masih kurang mampu mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan matang
2. Masalah social diantaranya adalah:
a. Kurang menyenangi kritikan orang lain
b. Kurang memahami tata karma atau etika dalam pergaulan
c. Kurang berminat untuk berpartisipasi dalam kegiatan social
d. Merasa malu untuk berteman dengan lawan jenis
e. Sikap kurang positif terhadap pernikahan
f. Sikap kurang positif terhadap hidup berkeluarga
3. Masalah Belajar diantaranya adalah:
a.Kutang memiliki kebiasaan belajar yang baik
b.Kurang memahami belajar yang efektif
c. Kurang memahami cara mengatasi kesulitan belajar
d. Kurang memahami cara membaca buku yang efektif
e. Kurang memahami cara membagi waktu belajar
f. Kurang menyenangi mata pelajaran tertentu
4. Masalah Karier
a.Kurang mengetahui cara memilih program studi
b.Kurang mempunyai motivasi untuk mencari informasi tentang karier
c. Masih bingung memilih pekerjaan
d. Masih cemas untuk mendapatkan pekerjaan setelah lulus
e. Belum memiliki pilihan perguruan tinggi tertentu , Jika setelah lulus tidak masuk dunia kerja.
3.2 Upaya penyelesaian masalah
Masalah-masalah dan hambatan-hambatan yang dialami oleh peserta didik dapat berasal dari dirinya sendiri, dari luar dirinya atau lingkungannya ataupun kedua-duanya hendaknya harus segera ditanggulangi agar tidak menyebabkan efek turunan lainnya. Masalah yang berasal dari dirinya antara lain sering terjadi bahwa minat peserta didik tidak sesuai dengan kemampuannya. Adapun upaya yang dapat dilakukan untuk menangani masalah pribadi dan masalah pendidikan adalah sebagai berikut:
1. Hidup sehat dan teratur serta pemanfaatan waktu secara efektif dan efisien
2. Mengerjakan tugas dan pekerjaan praktis sehari-hari secara mandiri dan penuh tanggung jawab
3. Membiasakan untuk menunjukkan dan melatih cara merespon berbagai masalah yang dihadapi
4. Hidup bermasyarakat dengan baik
Lebih dari itu untuk membantu siswa keluar dari masalah pribadinya, kita harus mengarahkan peserta didik agar bisa bersikap juujue, sportif, tidak mudah putus asa dan berprinsip.
Kemudian untuk menyelesaikan masalah karir. dimana antara kemampuan dan minat serta bakat dari peserta didik berbeda diantaranya adalah:
1. Pelajari ilmu sendiri, karena kesadaran diri tentang bakat, kemampuan, dan cirri-ciri p[ribadi yang dia miliki merupakan kunci dari ketetapan perencanaan karier.
2. Memilih bidang yang dirasa nyaman dan pas supaya pekerjaan dilakukan dengan ikhlas serta mendapatkan hasil yang maksimal.
3. Mengusahakan untuk menuliskan rencana dan cita-cita secara formal.
4. Yinjau dan bicarakan lagi rencana karir yang akan digeluti dengan teman atau orang tua.
5. Kemudian jika karir yang digeluti tidak cocok hendaknya jangan dipaksakan untuk diteruskan karena hasilnya akan kurang bagus, sebaiknya mencoba karir lain yang membuat kita merasa nyaman dan sreg.
Adapun yang menjadi layanan bimbingan karier diantaranya adalah:
1. Pemahaman diri seperti bakat, kemampuan, minat, keterampilan, dan cirri-ciri pribadi.
2. Pemahaman lingkungan seperti lingkungan pendidikan dan lingkungan pekerjaan serta berbagai kondisinya.
3. Cara-cara mengatasi masalah dan hambatan dalam perencanaan dan pemilihan karier sehubungan dengan kemungkinan keterbatasan lingkungan dan keadaan diri.
4. Perencanaan masa depan
5. Usaha penyaluran, penempatan, pengaturan dan penyesuaian.










BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Pada dasarnya memahami peserta didik memanglah tidak mudah, mengingat peserta didik adalah tetapi sebagai seorang guru harus mampu mengatasi berbagai masalah yang dihadapi oleh peserta didik, oleh karenanya kita harus mampu memahami peserta didik. Adapun hal–hal yang perlu diperhatikan dalam upaya memahami peserta didik diantaranya adalah:
1. Pemahaman akan Individu Sebagai Kesatuan Berbagai Karakteristik
2. Pemahaman Karakteristik Peserta Didik
3. Aspek-Aspek Pertumbuhan dan Perkembangan Individu
4. Pemahaman mengenaiKebutuhan Peserta Didik
5. Tugas Perkembangan Peserta Didik Dalam Kehidupan Pribadi
6. Perkembangan Kehidupan Pendidikan dan Karier
7. Tugas Perkembangan Remaja Berkenaan dengan Kehidupan Berkeluarga
8. Implikasi Tugas-Tugas Perkembangan Remaja dalam Penyelenggaraan Pendidikan
4.1 Saran
Berdasarkan uraian diatas, alangkah baiknya bila pendidik, orang tua dan pihak-pihak terkait lainnya menjalin kerja sama untuk membangun lingkungan yang kondusif bagi peserta didik sehingga mereka bisa belajar dengan tenang. Karena bagaimanapun juga masa depan negeri ini ada ditangan mereka.
Lebih dari itu bagi pendidik, hendaknya harus benar-benar memahami karakteristik siswa sehingga bisa lebih memahami keberadaan siswa. Dengan kaidah seperti ini otomatis interaksi guru dan murid akan lebih harmonis. Siswa pun tidak perlu merasa sungkan jika bertemu dengan guru. Sebaliknya guru juga bisa menjelma menjadi sosok yang mengayomi siswanya.
Untuk pemerintah, ada baiknya jika rekruitmen tenaga pengajar hendaknya terspesialisasi. Sehingga yang menjadi tenaga pendidik memang orang-orang yang kompeten di bidangnya.
Selain itu, ada beberapa usaha yang perlu dilakukan di dalam penyelenggaraan pendidikan, sehubungan dengan minat dan kemampuan remaja yang dikaitkan terhadap cita-cita kehidupannya antara lain adalah:
1) Bimbingan karier dalam upaya mengarahkan siswa untuk menentukan pilihan jenis pendidikan dan jenis pekerjaan sesuai dengan kemampuannya.
2) Memberikan latihan-latihan praktis terhadap siswa dengan ber¬orientasi kepada kondisi (tuntutan) lingkungan.
3) Penyusunan kurikulum yang komprehensif dengan mengem¬bangkan kurikulum muatan lokal.
4) Bimbingan tentang cara pergaulan dengan mengajarkan etika pergaulan lewat pendidikan budi pekerti dan pendidikan keluarga.
5) Bimbingan siswa untuk memahami norma yang berlaku baik di dalam keluarga, sekolah, maupun di dalam masyarakat. Untuk kepentingan ini diperlukan arahan untuk kebebasan emosional dari orang tua.



Daftar pustaka
Hartinah, Siti. 2008. Perkembangan peserta didik. Bandung: Refika Aditama
Ali, Mohammad, Mohammad Asrori.2008. Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta Didik . Jakarta: Bumi Aksara
.http://pesertadidik.netfirms.com/pokok_08.html
http://www.sdn3-leuwimunding.co.cc/2009/08/pengertian-dan-fungsi-kriteria.html
http://www.smkn10-mlg.sch.id/berita-191-penerapan-analisis-swot-untuk-peningkatan-pemahaman-diri-dan-lingkungan-peserta-didik.html

Rabu, 10 Maret 2010

pendekatan eklektik

Istilah pendekatan Eklektik (Eclectic Counseling) menunjuk pada suatu sistematika dalam konseling yang berpegang pada pandangan teoretis dan pendekatan (approach), yang merupakan perpaduan dari berbagai unsur yang diambil atau dipilih dari beberapa konsepsi serta pendekatan. Konselor yang berpegang pada pola eklektik berpendapat bahwa mengikuti satu orientasi teoretis serta menerapkan satu pendekatan saja terlalu membatasi ruang gerak konselor. Oleh karenanya dalam pendekatan ini konselor menggunakan variasi dalarrl sudut pandangan, prosedur, dan teknik sehingga dapat melayani masing-masing konseli sesuai dengan kebutuhannya dan sesuai dengan ciri khas masalah yang dihadapinya. Ini tidak berarti bahwa konselor berpikir dan bertindak seperti orang yang bersikap oportunis, dalam arti diterapkan saja pandangan, prosedur, dan teknik yang kebetulan membawa hasil yang paling baik. Dengan demikian, konselor bermaksud mengembangkan suatu fleksibilitas besar yang memungkinkan konselor untuk bisa melayani banyak orang dengan cara yang cocok untuk setiap orang guna dapat memperoleh hasil yang maksimal atau optimal.
Promoter utama dari pola eklektik adalah Frederick Thorne yang mulai mengelola majalah: Journal of Clinical Psychology pada Tahun l945 dan menyebarluaskan pandangan-pandangannya dalam beberapa buku, antara lain Principles of Personality Counseling (1950). yang mencoba mengintegrasikan unsur-unsur positif dari masing-masing aliran dalam suatu sistematika baru dan terpadu. Adapun penerapan Sistematika terpadu ini dalam segi- seginya yang teoretis dan praktis, bermaksud mengembangkan dan memanfaatkan kemampuan konseli untuk berpikir benar dan tepat, sehingga konseli menjadi mahir dalam memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapinya (problem-solving). Tujuan layanan konseling adalah menggantikan tingkah laku yang terlalu kompulsif dan emosional dengan tingkah laku yang bercorak lebih rasional dan lebih konstruktif. Konselor sebagai psikolog ahli, yang. menguasai berbagai prosedur dan teknik untuk memberikan bantuan psikologis kepada orang lain, berkompeten untuk mendampingi konseli dalam menyelesaikan persoalan-persoalan hidup secara tuntas. Konseling eklektik sebagaimana dikembangkan oleh Thorne dianggap sesuai untuk diterapkan terhadap orang-orang yang tergolong normal, yaitu tidak menunjukkan gejala-geiala kelainan dalam kepribadiannya atau gangguan kesehatan. mental yang berat. Orang-orang yang normal itu dapat saja menghadapi berbagai persoalan hidup, yang dapat mereka selesaikan tanpa dituntut perombakan total dalam kepribadiannya. Dalam hal ini, Konseli sebagai manusia dianggap memiliki dorongan, yang timbul dari dirinya sendiri, untuk mempertahankan (maintenance) dan mengembangkan dirinya sendiri, seoptimal mungkin (actualization), namun realisasi dari dorongan dasar ini dapat terhambat karena konseli belum mempergurtakan kemampuanriya untuk berpikir secara efisien dan efektif.
Selama proses konseling berlangsung, konselor berpegang pada suatu rangkaian langkah kerja yang seiring dengan urutan fase-fase dalam proses konseling, yaitu fase pembukaan, fase inti, vdan fase penutup. Dia menggunakan teknik-teknik konseling verbal yang sesuai bagi saat-saat konseli tidak membutuhkan pengarahan berupa penyadaran arus pikiran, informasi, saran, dan sebagainya serta menggunakan ,teknik-teknik konseling verbal yang sesuai bagi saat-saat konseli. Thorne menganjurkan supaya konseli diberi kesempatan untuk menemukan sendiri penyelesaian atas masalahnya tanpa pengarahan dari konselor; bilamana ternyata konseli belum dapat menemukan penyelesaian atas prakarsa sendiri; barulah konselor mulai memberikan pengarahan yang jelas. Pada awal proses konseling, bila konseli baru mengutarakan masalahnya serta mengungkapkan semua pikiran dan perasaannya tentang masalah itu, digunakan banyak teknik verbal yang tidak mengandung pengarahan tegas oleh konselor, seperti Ajakan Untuk Mulai, Refleksi Pikiran dan Perasaan, Klarifikasi Pikiran dan Perasaan, Permintaan Untuk Melanjutkan, Pengulangan Satu-Dua Kata, dan Ringkasan Sementara. Namun, dalam keseluruhannya proses konseling tidak dibiarkan berjalan ala kadamya, tetapi diatur menurut urutan fasefase penutup.
Oleh karena itu, bantuan yang diberikan oIeh konselor bukan hal yang befsifat dikotomis (tidak ada pengarahan ada pengarahan), melainkan bergeser-geser pada suatu kontinum dari pengarahan minimal sampai pengarahan maksimal, sesuai dengan keadaan konseli pada saat tertentu. Thorne menekankan perluriya dikumpulkan data sebanyak mungkin tentang konseli, yang diperoleh dari berbagai sumber informasi Cease history). Data itu dianggap perlu, supaya konselor dapat membuat suatu diagnosis dan hubungan sebab-akibat antara unsur-unsur dalam persoalan konseli menjadi jelas (psychological diagnosis), dan supaya kelanjutan dari proses konseling dapat direncanakan dengan lebih baik. Menurut norma atau patokan yang dipegang oleh Thorne, seseorang dikatakan telah berhasil dalam menjalani’proses konseling bila dia: mampu, mengungkapkan perasaan-perasaan dan motif-motifnya secara lebih memadai; mampu mengatur dirinya sendiri dengan lebih baik; memandang dirinya sendiri dan lingkungan hidupnya secara lebih realistik; mampu berpikir lebih rasional dan logis; mengembangkan nilai-nilai dan sikap-sikap yang lebih selaras dan lebih konsisten yang satu dengan yang lain; mengatasi penipuan diri dengan meninggalkan penggunaan berbagai mekanisme pertahanan diri; dan inenunjukkan tanda-tanda lebih mampu mandiri dan bertindak secara lebih dewasa.
Menurut pandangan Shertzer dan Stone dalam buku Fundamentals of Counseling, Konseling Eklektik sebagaimana dikonsepsikan oleh Thorne, mengandung unsur-unsiir positif dan negatif. Sebagai unsur positif disebut: usaha menciptakan suatu sistematika dalam memberikan layanan konseling; menghindari pbsisi dogmatik dan kaku dengan berpegang pada satu kerangka teoretis dan pendekatan praktis saja. Sebagai unsur negatif disebut: menjadi mahir dalam penerapan satu pendekatan konseling tertentu sudah cukup sulit bagi seorang konselor, apalagi mengembangkan suatu pendekatan konseling yang memadukan unsur-unsur dari berbagai pendekatan konseling; konseli dapat merasa bingung bila konselor mengubah-ubah siasatnya sesuai dengan keadaan konseli pada fase-fase tertentu dalam proses konseling; diragukan apakah konselor mampu menehtukan siasat yang paling sesuai hanya berdasarkan reaksi dan tanggapan konseli pada saat-saat tertentu selama proses konseling berlangsung.
Aplikasi pendekatan ekliktik. Faktanya para konselor di lembaga pendidikan menengah dan, pendidikan tinggi pada umumnya bukan psikolog profesional yang berwenang untuk mengadakan diagnosis psikologis (seperti dituntut oleh Thorne), dan akan mengalami kesulitan bila sering harus berubah siasat menurut kebutuhan konseli pada setiap saat selama proses konseling, sistematika Konseling Eklektik ini kiranya tidak dapat mereka terapkan secara memadai. Namun, gagasan menerapkan suatu sistematika Konseling Eklektik yang tidak seluruhnya berpegang pada model Thorne, tetap menarik bagi seorang konselor di institusi pendidikan karena Konselor dapat menyesuaikan pendekatannya dengan jenis masalah yarig dihadapi konseli, misalnya masalah pilihan program studi dan pekerjaan lebih baik diselesaikan menurut pola pendekatan Factor masalah perasaan takut dan benci yang bersumber pada pengalaman belajar negatif lebih baik diselesaikan menurut pola pendekatan behavioristik) masalah yang bersumber pada pikiran irasional lebih baik diselesaikan menurut pendekatan. Dengan demikan, konselor tidak menerapkan pola pendekatan yang sama terhadap semua masalah yang diungkapkan kepadanya. Hal ini sudah mengandung unsur memilih sesuai dengan kebutuhan konseli, dan sedikit banyak sudah berarti mengambil sikap eklektif. Selain itu melalui pendekatan ini, Konselor menyadari bahwa tidak semua kasus yang diutarakan kepadanya mengandung suatu persoalan atau masalah yang memerlukan pembahasan mengenai penyelesaiannya pada saat sekarang. Misalnya, dapat terjadi bahwa seorang konseli hanya ingin mendapatkan suatu informasi tentang isi program studi; atau hanya membutuhkan dukungan moral dalam menghadapi suatu situasi kehidupan yang sulit baginya, namun penyelesaiannya sebenarnya sudah jelas baginya, seperti kasus remaja putri yang sudah tahu bagaimana harus bersikap terhadap pacarnya yang mendesak-desak melakukan hal-hal terlarang; atau hanya membutuhkan konflrmasi atas suatu pilihan yang telah dibuat, seperti kasus mahasiswa yang sudah rnantap akan memutuskan hubungan dengan pacarnya. Dalam hal ini tidak terdapat fase penggalian masalah dan fase penyelesaian masalah. Dalam keadaan yang demikian, konselor dapat menerapkan suatu pola pendekatan yang bersifat lebih umum ,dan sedikit banyak bercbrak eklektik. pola pendekatan yang diusulkan memungkinkan konselor untuk melayani kasus-kasus yarig penyelesaiannya terutama terdiri atas pilihan di antara beberapa alternatif (a choise case), dan kasus-kasus yang penyelesaiannya terutama menuntut perubahan sikap serta tindakan penyesuaian diri terhadap situasi kehidupan yang tidak dapat diubah dan harus diterima seadanya (a change case). Meskipun semua proses konseling berhasil membawa suatu perubahan pada diri konseli (a change), namun di sini, demi jelasnya pembahasan, dibedakan antara a choice case dan a change case. Dalam.suatu kasus pilihan (fa choice case) konseli perlu dibantu untuk melihat adanya berbagai kemungkinan, yang kemudian flitinjau dari sudut pandangan “Bisa dipilih?; mungkin untuk dipilih?” (Possible?), dari sudut pandangan “Ingin dipilih?” (Desirable?), dan mungkin pula dari sudut pandangan “Kalau dipilih, akan membawa hasil yang diharapkan?” (Feasible?). Dalam suatu kasus penyelesaiah diri (a change case)-konseli perlu dibantu untuk meninjau kembali sikap dan paridanganhya sampai sekarang serta memikirkan sikap dan tihdakan yang lebih .baik. Misalnya dalam kasus mahasiswi yang masih bingung akan membina hubungan lebih akrab dengan pemuda yang mana, harus dilihat apakah dia sebenarnya sudah mempunyai beberapa calon sebagai alternatif; kemudian ditinjau masing-masing alternatif itu: pemuda A dapat dipilih karena belum .mempunyai pacar, namun tidak ingin dipilih karena berbeda agama; kemudian pemuda B dan seterusnya. Dalam kasus anak remaja yang kerap bentrok dengan brang tuanya yang dianggap terlalu kolot, harus ditinjau apa yang dimaksudkan dengan kolot dan apakah kolot mesti berarti tidak mengandung kebaikan apa-apa. Berdasarkan tinjauan itu remaja ini dapat mengubah pandanganhya dan palitig sedikit memgambil sikap akan mempertimbangkan dahulu dan tidak langsung menolak mentah-mentah. Namun, harus diakui bahwa suatu kasus pihhari dapat menjadi kasus penyesuaian diri, setelah ditentukan pilihannya. Demikian pula sebeliknya, suatu kasus penyesuaian diri dapat menjadi kasus pilihan, niisahiya setelah mahasiswi tadi rrenjatuhkan pilihannya atas pemuda C, dia harus rrie-nyesuaikan corak pergaulannya dengan pemuda A dan pemuda B. Dernikian pula siswa remaja tadi dapat memikirkan cara manakah yang paling cocok bagihya uhituk mendekati orang tuanya, dengan memilih di antara beberapa siasat yang dapat diterapkan. Pola pendekatan yang dimaksud adalah sebagai berikut ;
(a) Fase pembukaan. Selama fase ini konselor berusaha untuk menciptakan relasi hubungan antarpribadi (working relationship) yang baik.
(b) Fase penjelasan masalah. Konseli mengutarakan masalah atau persoalan yang dihadapi. Selama fase ini konselor mendengarkan dengan sungguh-sungguh, sambil menunjukkan pemahaman dan pengertian serta memantulkan perasaan dan pikiran yang diungkapkan oleh konseli.
c) Fase penggalian masalah. Koriselor dan konseli bersama-sama menggali latar belakang masalah, antara lain: asal-usul permasalahan, unsur-unsur yang pokok; dan tidak pokok, pihak-pihak siapa yang terlibat, perasaan dan pikiran konseli i: mengenai masalah yang dihadapi. Fase ini mencakup analisis kasus, yang menghasilkan fakta dan data yang harus diindahkan selama fase berikutnya, upaya persoalannya dapat diselesaikan secara tuntas. Selama fase ini akan menjadi lebih jelas pula bagi konselor, apakah masalah konseli termasuk a choice case atau a change case, seandainya hal ini belum dapat ditentukan selama fase penjelasan masalah. Mungkin juga dianggap perlu mencari data dan fakta tambahan, yang harus dikumpulkan di luar waktu wawancara sekarang ini. Kalau demikian, proses konseling dihentikan dahulu untuk. dilanjutkan dalam. wawancara berikutnya.
(d) Fase penyelesaian masalah. Dengan berpegang pada pembedaan antara a choice case dan a change case, konselor dan konseli membahas persoalan sampai ditemukan penyelesaian’ yang tuntas, clengari mengindahkan semua data dan fakta. Cara menyelesaikan suatu kasus pilihan (a choice case) dan suatu kasus penyesuaian diri (a change case) telah diuraikan di atas. Dengan sendirinya fase ini akan memakan waktu paling lama dan mungkin\memerlukan wawancara lanjutan. Selama fase ini konselor lebih banyak menggunakan teknik-teknik yang mengandung pengarahan yang jelas.

Sumber : http://www.idtesis.blogspot.com, oleh Endin Surya Solehudin, judul Konseling Eklektik dengan berbagai perubahan
Posted on Januari 23, 2008 (diambil tanggal 1 maret 2010)

Sabtu, 30 Januari 2010

manajemen penjaminan mutu

Modul
Manajemen Penjaminan Mutu
Modul ini diajukan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah
Pengelolaan Pendidikan
Dosen: Dr. Eka Prihatin, M.Pd





Oleh:
Muthmainnah (0809264)



JURUSAN PENDIDIKAN AKUNTANSI
FAKULTAS PENDIDIKAN EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2009
PENDAHULUAN

 Latar belakang
Kualitas telah menjadi isu kritis dalam persaingan modern dewasa ini. Oleh karenanya tidak mengeherankan jika pada saat ini berbagai perusahaan berlomba-lomba untuk meningkatkan kualitas produknya, hal ini juga terjadi dalam dunia pendidikan. Seiring dengan perkembangan zaman, saat ini pendidikan dituntut untuk lebih professional dalam menyediakan layanan pendidikan.
Mungkin dalam benak siswa timbul pertanyaan mengapa pendidikan harus bermutu? Pendidikan harus bermutu karena saat ini dunia pendidikan pendidikan dihadapkan pada berbagai tantangan baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Adapun contoh tantangan dari dalam negeri seperti: tantangan-tantangan yang terjadi akibat ketidakstabilan ekonomi & politik, kondisi keamanan yang yang belum terjamin serta pergeseran nilai social budaya yang mengalami pergeseran akibat pengaruh globalisasi. Sedangkan tantangan dari luar negeri (internasional) berkaitan dengan kesiapan SDM bangsa Indonesia dalam menghadapi persaingan global. Oleh sebab itu, pendidikan harus bermutu agar bangsa kita bias maju.
Berkaitan dengan mutu tersebut kita acapkali dikecewakan oleh tingkah produsen yang sering kali mengurangi kualitas produk/ layananya padahal produk tersebut sudah mendapat tempat di hati konsumen. Untuk lebih jelas perhatikan ilustrasi berikut:
Bu Siti : kok sekarang martabak bu iyem tidak seenak dulu ya bu?
Bu Susi: iya ya bu,, sekarang mah rasanya tidak selegit dulu,, udah gitu u uda gitu ukurannya jadi tambah kecil pula.
Bu Siti: Kenapa yah? Padahal namanya udah tenar,, tapi kok kualitasnya ga dijaga gitu sih?
Berdasarkan penggalan drama diatas kita dapat mengetahui bahwa adakalanya produsen tidak bias menjaga kualitas produknya. Hal ini terjadi karena tidak adanya manajemen penjaminan mutu dalam perusahaan tersebut. Disinilah pentingnya manajemen penjaminan mutu yakni sebagai acuan standard kualitas. Tentunya kejadian dalam penggalan drama diatas tidak boleh terjadi dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu, system manajemen penjaminan mutu harus diterapkan dalam dunia pendidikan sehingga kualitas lulusannya (output/ keluaran) terjamin.
 Tujuan Penyusunan Modul
Modul ini disusun untuk:
1. mengetahui tujuan dari penjaminan mutu
2. mengetahui konsep penjaminan mutu, strateginya, dan juga pelaksanaannya dalam pendidikan
 Rumusan masalah
Modul ini berisi tentang konsep dasar mengenai penjaminan mutu pendidikan mencakup: Definisi Penjaminan Mutu, Konsep Penjaminan Mutu, Standar Penjaminan Mutu Dalam Pendidikan, Tujuan Penjaminan Mutu, Proses Penjaminan Mutu, Tahapan-tahapan dalam Proses Penjaminan Mutu, Manajemen Kendali Mutu, Strategi Penjaminan Mutu, Strategi Menciptakan Lembaga Pendidikan Yang Memiliki Superior Performance, dan Pelaksanaan Penjaminan Mutu
 Pembatasan masalah
Dalam modul ini hal-hal yang akan dibahas hanyalah hal-hal yang berkaitan dengan penjaminan mutu secara umum. Hal ini dikarenakan luasnya ruang lingkup penjaminan mutu dan kompleksitasnya hal-hal yang berkenaan dengan penjaminan mutu. Oleh karena itu permasalahan khusu dalam ruang lingkup penjaminan mutu lainnya tidak akan dibahas.
 Metode penulisan
Penyusunan modul ini menggunakan metode study pustaka dari berbagai sumber.













KAJIAN TEORI: PENJAMINAN MUTU/KUALITAS
(QUALITY ASSURANCE)


1. Definisi Penjaminan Mutu
Definisi Penjaminan kualitas menurut Elliot (1993) adalah seluruh rencana dan tindakan sistematis yang penting untuk menyediakan kepercayaan yang digunakan untuk memuaskan kebutuhan tertentu. Dimana kebutuhan tersebut merupakan refleksi dari kebutuhan pelanggan. Penjaminan kualitas biasanya membutuhkan evaluasi secara terus-menerus dan biasanya digunakan sebagai alat bagi manajemen. Sedangkan menurut Gryna (1988), penjaminan kualitas merupakan kegiatan untuk memberikan bukti-bukti untuk membangun kepercayaan bahwa kualitas dapat berfungsi secara efektif (Pike dan Barnes, 1996).
Sementara itu Cartin (1999:312) memberikan definisi penjaminan kualitas sebagai berikut : Quality Assurance is all planned and systematic activities implemented within the the quality system that can be demonstrated to provide confidence that a product or service will fulfill requirements for quality.
Jadi, Secara umum dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan penjaminan mutu adalah proses penetapan dan pemenuhan standar mutu pengelolaan secara konsisten dan berkelanjutan, dan sistematis sehingga konsumen, produsen, dan pihak lain yang berkepentingan memperoleh kepuasan dan percaya dengan kualitas produk yang ditawarkan.
Dengan demikian, penjaminan mutu pendidikan adalah proses penetapan dan pemenuhan standar mutu pengelolaan pendidikan secara konsisten dan berkelanjutan, dan sistematis sehingga stakeholders memperoleh kepuasan.

2. Konsep Penjaminan Mutu
Suatu lembaga pendidikan dinyatakan bermutu atau berkualitas, apabila :
1) lembaga pendidikan tersebut mampu menetapkan dan mewujudkan visinya melalui pelaksanaan misinya (aspek deduktif)
2) lembaga pendidikan tersebut mampu memenuhi kebutuhan stakeholder (aspek induktif) berupa:
a. kebutuhan kemasyarakatan (societal needs);
b. kebutuhan dunia kerja (industrial needs);
c. kebutuhan profesional (professional needs).
Dengan demikian lembaga pendidikan harus mampu merencanakan, menjalankan, dan mengendalikan suatu proses yang menjamin pencapaian mutu sebagaimana diuraikan di atas agar bisa bersaing di era global dan bisa mendapatkan superior performance.
Adapun pentingnya penjaminan mutu bagi pendidikan dalam konteks persaingan global dapat digambarkan sebagai berikut:

















Berdasarkan bagan diatas, untuk mencapai Superior Performance perguruan tinggi harus mampu memadukan kemampuan manajemen, kemampuan teknologi dan modal/capital (dalam hal ini sarana dan prasarana) yang dimiliki agar mampu bersaing (competitive) dalam pasar bebas (global market) dimana dalam pasar bebas tersebut lembaga pendidikan harus memperhatikan permintaan akan kebutuhan pelanggan yang berbeda-beda (Customer Requirement Diversity). Agar dapat memenangkan pasar bebas tersebut lembaga pendidikan harus memiliki keinginan yang kuat/ keyakinan bisa memenangi persaingan (Willingness), yang dibarengi dengan kemampuan yang mumpuni (Competence), serta senantiasa waspada (Awareness) terhadap perubahan-perubahan situasi yang mungkin berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pendidikan di lembaga pendidikan. Adapun untuk menjaga keajegan dari superior performance tersebut dibutuhkan manajemen penjaminan mutu agar kualitas layanan pendidikan tidak menurun.

3. Standar Penjaminan Mutu Dalam Pendidikan
Standar penjaminan mutu di dunia pendidikan dapat kita bedakan menjadi 2, yakni:
1). Standar Nasional Pendidikan (SNP)
Merupakan standar nasional sebagai tolak ukur minimal yang berlaku dalam lingkup wilayah lokal mencakup standar isi, standar kompetensi lulusan, standar proses, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Hal ini diatur oleh BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan).
2). Standar Lain
Merupakan standar-standar lain yang perlu dipertimbangkan untuk diaplikasikan dalam dunia pendidikan misalnya ISO. ISO merupakan kepanjangan dari International Standardization Organization. Organisasi ini berkedudukan di Jenewa, Swiss. Latar belakang penerbitan sertifikat ISO ini adalah sebagai akibat dari pola perdagangan bebas yang akan dikembangkan dimasa yang akan datang agar hanya produk-produk yang bermutu saja yang beredar di pasar sehingga konsumen tidak dibingungkan dengan banyaknya merek yang beredar. Untuk di Indonesia sertifikat ISO lebih dikenal dengan dengan istilah SNI (Standar Nasional Indonesia). Beberapa Standar ISO yang telah diberlakukan diantaranya adalah:
 ISO 9000/ SNI 9000
 ISO 14000
Contoh beberapa perguruan tinggi yang sudah mendapat sertifikasi ISO seperti, Universitas Widyatama (ISO: 9000: 2001), Universitas Negeri Yogyakarta.
Berikut bagan mengenai standar-standar penjaminan mutu.


Standar-standar tersebut pada dasarnya bertujuan untuk menghasilkan lulusan-lulusan yang cerdas dan kompetitif. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar berikut:






4. Tujuan Penjaminan Mutu
Tujuan kegiatan penjaminan mutu Menurut Yorke (1997), antara lain sebagai berikut:
1. Membantu perbaikan dan peningkatan secara terus-menerus dan ber-kesinambungan melalui praktek yang terbaik dan mau mengadakan inovasi.
2. Memudahkan mendapatkan bantuan, baik pinjaman uang atau fasilitas atau bantuan lain dari lembaga yang kuat clan dapat dipercaya.
3. Menyediakan informasi pada masyarakat sesuai sasaran dan waktu secara konsisten, dan bila mungkin, membandingkan standar yang telah dicapai dengan standar pesaing.
4. Menjamin tidak akan adanya hal-hal yang tidak dikehendaki.
Selain itu, tujuan dari diadakannya penjaminan kualitas (quality assurance) ini adalah agar dapat memuaskan berbagai pihak yang terkait di dalamnya, sehingga dapat berhasil mencapai sasaran masing-masing.
Secara umum dapat disimpulkan bahwa tujuan Penjaminan Mutu dalam dunia pendidikan meliputi:
1) Memelihara dan meningkatkan mutu lembaga pendidikan secara berkelanjutan, yang dijalankan oleh suatu lembaga pendidikan secara internal untuk mewujudkan visi dan misinya.
2) Untuk memenuhi kebutuhan stakeholders melalui penyelenggaraan pendidikan. Dalam arti, dengan adanya penjaminan mutu diharapkan para lulusan (output pendidikan) memiliki kualifikasi yang unggul sesuai dengan harapan pemerintah dan masyarakat. Pencapaian tujuan penjaminan mutu melalui kegiatan penjaminan mutu yang dijalankan secara internal, akan dikontrol dan diaudit melalui kegiatan akreditasi yang dijalankan oleh BAN-PT atau lembaga lain secara eksternal.

5. Proses Penjaminan Mutu
Proses penjaminan mutu lembaga pendidikan merupakan kegiatan mandiri dari lembaga pendidikan yang bersangkutan, sehingga proses tersebut dirancang, dijalankan, dan dikendalikan sendiri oleh lembaga pendidikan yang bersangkutan tanpa campur tangan dari Pemerintah, dalam hal ini yakni Direktorat Jenderal Pendidikan, Depdiknas. Adapun dalam pelaksanaannya, setiap lembaga pendidikan memiliki spesifikasi yang berlainan, antara lain dalam hal ukuran, struktur, sumber daya, visi dan misi, sejarah, dan kepemimpinan.
Mengenai posisi dan arti penting penjaminan mutu pendidikan, dapat dikemukakan bahwa di masa mendatang eksistensi suatu lembaga pendidikan tidak semata-mata tergantung pada pemerintah, melainkan terutama tergantung pada penilaian stakeholders (siswa, orang tua, dunia kerja, pemerintah, guru/dosen, tenaga penunjang, serta pihak-pihak lain yang berkepentingan) tentang mutu lembaga pendidikan yang diselenggarakannya. Agar eksistensinya terjamin, maka setiap lembaga pendidikan baik yang formal maupun nonformal, negeri maupun swasta, mau tidak mau harus menjalankan penjaminan mutu terhadap layanan pendidikan yang diselenggarakannya.
Adapun hal yang perlu diperhatikan terkait dengan proses penjaminan mutu ialah kenyataan bahwa penilaian stakeholders senantiasa berkembang, maka penjaminan mutu juga harus selalu disesuaikan pada perkembangan itu secara berkelanjutan (continuous improvement). Oleh karena itu, untuk mencapai suistanable competitive advantage atau keunggulan bersaing yang terus-menerus, setiap lembaga pendidikan harus selalu melakukan perbaikan terhadap layanan pendidikannya. Bahkan jika perlu harus ada inovasi pendidikan yang mampu memberikan brand terhadap layanan jasa yang diberikan sehingga tiap lembaga pendidikan memiliki ciri khas masing-masing.
Sistem Penjaminan Mutu sendiri pada prinsipnya adalah upaya-upaya yang dilakukan oleh pihak-pihak yang terkait secara sistematis untuk peningkatan mutu output hasil produksi secara berkelanjutan yang dimanifestasikan dalam bentuk siklus kegiatan penjaminan mutu. Dalam dunia pendidikan output hasil produksi berarti lulusan/ keluaran(Alumni).

6. Tahapan-tahapan dalam Proses Penjaminan Mutu
Untuk memahami proses pejaminan Mutu secara Komprehensif berikut akan diuraikan tahapan-tahapan dalam proses Penjaminan Mutu. Penjaminan mutu lembaga pendidikan dijalankan melalui tahap-tahap yang dirangkai dalam suatu proses sebagai berikut :
1) lembaga pendidikan menetapkan visi dan misi lembaga pendidikan yang bersangkutan.
2) Penjabaran setiap visi menjadi serangkaian standar mutu.
3) Standar mutu dirumuskan dan ditetapkan dengan meramu visi lembaga pendidikan (secara deduktif) dan kebutuhan stakeholders (secara induktif). Sebagai standar, rumusannya harus spesifik dan terukur yaitu mengandung unsur ABCD (Audience, Behavior, Competence, Degree).
4) lembaga pendidikan menetapkan organisasi dan mekanisme kerja penjaminan mutu.
5) lembaga pendidikan melaksanakan penjaminan mutu dengan menerapkan manajemen kendali mutu.
6) lembaga pendidikan mengevaluasi dan merevisi standar mutu melalui benchmarking secara berkelanjutan.

7. Manajemen Kendali Mutu
Penjaminan mutu pendidikan dapat diselenggarakan melalui pelbagai model manajemen kendali mutu. Salah satu model manajemen yang dapat digunakan adalah model PDCA (Plan, Do, Check, Action) yang akan menghasilkan pengembangan berkelanjutan (continuous improvement) atau kaizen mutu pendidikan. Kaizen dalam bahasa Jepang berarti “perbaikan secara terus menerus”. Jadi fungsi manajemen kendali mutu dalam pendidikan adalah untuk mengendalikan mutu pendidikan agar senantiasa berkembang ke arah yang lebih baik.

8. Strategi Penjaminan Mutu
Strategi penjaminan mutu pendidikan di Indonesia adalah:
1) Direktorat Jenderal Pendidikan, Depdiknas menetapkan Pedoman Penjaminan Mutu pendidikan.
2) lembaga pendidikan menggalang komitmen untuk menjalankan penjaminan mutu pendidikan yang diselenggarakannya
3) lembaga pendidikan memilih dan menetapkan sendiri standar mutu pendidikan yang diselenggarakannya.
4) lembaga pendidikan menetapkan dan menjalankan organisasi berserta mekanisme kerja penjaminan mutu pendidikan sebaik mungkin.
5) lembaga pendidikan melakukan benchmarking mutu pendidikan secara berkelanjutan, baik ke dalam maupun ke luar negeri.

9. Strategi Menciptakan Lembaga Pendidikan Yang Memiliki Superior Performance




Berdasarkan gambar diatas menunjukkan bahwa pengembangan ilmu yang diberikan suatu lembaga pendidikan harus sesuai dengan tuntutan bisnis yang berkembang saat ini, sehingga apa yang diajarkan serta lulusan dari lembaga pendidikan tersebut dapat direspon oleh perusahaan

10. Pelaksanaan Penjaminan Mutu
Agar penjaminan mutu pendidikan di lembaga pendidikan dapat dilaksanakan, maka terdapat beberapa prasyarat yang harus dipenuhi agar pelaksanaan penjaminan mutu tersebut dapat mencapai tujuannya. Prasyarat tersebut mencakup:


1. Komitmen
Para pelaku proses pendidikan tinggi di suatu, baik yang memimpin maupun yang dipimpin, lembaga pendidikan harus memiliki komitmen yang tinggi untuk senantiasa menjamin dan meningkatkan mutu pendidikan yang diselenggarakannya. Tanpa komitmen ini di semua lini organisasi suatu, niscaya penjaminan mutu pendidikan di lembaga pendidikan tersebut akan berjalan tersendat, bahkan mungkin tidak akan berhasil dijalankan.
2. Perubahan Paradigma
Paradigma lama penjaminan mutu, yaitu mutu pendidikan di suatu lembaga pendidikan akan dapat dipelihara serta ditingkatkan apabila dilakukan pengawasan atau pengendalian yang ketat oleh pemerintah ( Depdiknas). Hal ini harus diubah menjadi suatu paradigma baru. Yakni bahwasannya lembaga pendidikan harus menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan tinggi yang diselenggarakannya meskipun pemerintah tidak melakukan pengawasan.
3. Sikap Mental
Harus diakui bahwa sebagian besar lembaga pendidikan di Indonesia menyelenggarakan pendidikan tanpa didahului dengan perencanaan yang matang.
Kalaupun terdapat perencanaan, pada umumnya bukanlah karena kebutuhan, melainkan karena persyaratan perijinan atau akreditasi. Sikap mental semacam itu harus diubah pada suatu sikap mental baru, yaitu rencanakanlah pekerjaan anda dan kerjakanlah rencana anda (plan your work and work your plan).
4. Pengorganisasian
Pengorganisasian penjaminan mutu pendidikan di suatu lembaga pendidikan sangat tergantung pada ukuran, struktur, sumber daya, visi dan misi, sejarah, dan kepemimpinan dari/di lembaga pendidikan tersebut. Faktor terpenting yang perlu mendapat perhatian dalam pengorganisasian penjaminan mutu pendidikan adalah bahwa pengorganisasian tersebut harus mampu menumbuhkan kesepahamantentang penjaminan mutu pendidikan di lembaga pendidikan tersebut, yang pada gilirannya akan menumbuhkan sikap suportif dari seluruh komponen di lembaga pendidikan itu terhadap upaya penjaminan mutu pendidikan tinggi.





LATIHAN
1. jelaskan mengapa manajemen penjaminan mutu itu penting?
2. Gambarkan dan jelaskan bagan mengenai pentingnya penjaminan mutu bagi pendidikan dalam konteks persaingan global?
3. Sebutkan dan jelaskan tahapan-tahapan dalam proses penjaminan mutu di lembaga pendidikan?
4. Sebutkan dan jelaskan tujuan kegiatan penjaminan mutu menurut Yorke (1997)?
5. Sebutkan definisi penjaminan mutu menurut para ahli?

PETUNJUK JAWABAN LATIHAN
Jawaban dikumpulkan paling lambat tanggal 18 januari 2010 ke alamat uth_thea_ghurabah@yahoo.com dengan format sebagai berikut:
1. Diketik rapih spasi 1.5 huruf times new roman ukuran 12 kertas ukuran A4.



















RANGKUMAN
Secara umum, penjaminan mutu dapat didefinisikan sebagai proses penetapan dan pemenuhan standar mutu pengelolaan secara konsisten dan berkelanjutan, dan sistematis sehingga konsumen, produsen, dan pihak lain yang berkepentingan memperoleh kepuasan dan percaya dengan kualitas produk yang ditawarkan.
Suatu lembaga pendidikan dinyatakan bermutu atau berkualitas, apabila :
1) lembaga pendidikan tersebut mampu menetapkan dan mewujudkan visinya melalui pelaksanaan misinya (aspek deduktif)
2) lembaga pendidikan tersebut mampu memenuhi kebutuhan stakeholder (aspek induktif) berupa:
a. kebutuhan kemasyarakatan (societal needs);
b. kebutuhan dunia kerja (industrial needs);
c. kebutuhan profesional (professional needs).
Standar penjaminan mutu di dunia pendidikan dapat kita bedakan menjadi 2, yakni:
1). Standar Nasional Pendidikan (SNP)
2). Standar Lain
Secara umum dapat disimpulkan bahwa tujuan Penjaminan Mutu dalam dunia pendidikan meliputi:
1. Memelihara dan meningkatkan mutu lembaga pendidikan secara berkelanjutan
2. menghasilkan lulusan dengan kualifikasi yang unggul sesuai dengan harapan pemerintah dan masyarakat.
Proses penjaminan mutu lembaga pendidikan merupakan kegiatan mandiri dari lembaga pendidikan yang bersangkutan, sehingga proses tersebut dirancang, dijalankan, dan dikendalikan sendiri oleh lembaga pendidikan yang bersangkutan tanpa campur tangan dari Pemerintah. Dimana, dalam pelaksanaannya, setiap lembaga pendidikan memiliki spesifikasi yang berlainan, antara lain dalam hal ukuran, struktur, sumber daya, visi dan misi, sejarah, dan kepemimpinan.
Tahapan-tahapan dalam Proses Penjaminan Mutu
1) penetapaan visi dan misi lembaga pendidikan yang bersangkutan.
2) Penjabaran setiap visi menjadi serangkaian standar mutu.
3) perumusan standar mutu
4) penetapan organisasi dan mekanisme kerja penjaminan mutu.
5) penerapan manajemen kendali mutu.
6) evaluasi dan revisi standar mutu melalui benchmarking secara berkelanjutan.
Agar pelaksanaan penjaminan mutu dapat mencapai tujuannya, diperlukan:
1. komitmen
2. perubahan paradigma
3. sikap mental
4. pengorganisasian

Penjaminan mutu pendidikan dapat diselenggarakan melalui pelbagai model manajemen kendali mutu. Salah satu model manajemen yang dapat digunakan adalah model PDCA (Plan, Do, Check, Action) yang akan menghasilkan pengembangan berkelanjutan (continuous improvement) atau kaizen mutu pendidikan



















TES FORMATIF
1. Berikut ini adalah tahapan-tahapan dalam Proses Penjaminan Mutu, kecuali:
a. Penjabaran setiap visi
b. perumusan standar mutu
c. pemilihan pemimpin organisasi
d. evaluasi dan revisi
e. penetapaan visi dan misi
2. Yang bukan termasuk prasyarat suksesnya pelaksanaan mutu adalah faktor...
a. sikap mental
b. perubahan paradigma
c. komitmen
d. pengorganisasia
e. pengelompokkan
3. Makna huruf C pada model PDCA adalah..
a. Character
b. Check
c. Chemistry
d. Contextual
e. Coridor
4. Yang dimaksud dengan Superior Performance adalah...
a. Pertunjukkan suatu lembaga pendidikan
b. Pameran pendidikan untuk sosialisasi acara-acara pendidikan
c. Nilai pasar yang berkembang saat itu
d. Performa standar pendidikan sehingga bisa mengetahui kekurangan-kekurangan
e. Nilai lebih yang dimiliki oleh suatu produk sehingga bisa menguasai pasar
5. Yang dimaksud dengan Suistanable Competitive Advantage adalah...
a. Keunggulan bersaing
b. Keunggulan pesaing
c. Para persaing
d. Kontinuitas keunggulan bersaing
e. Persaingan ketat


6. Pengorganisasian penjaminan mutu di suatu lembaga pendidikan tergantung pada hal-hal berikut, kecuali...
a. Ukuran dan struktur organisasi
b. sumber daya yang dimiliki
c. Ideologi yang di anut
d. visi dan misi,
e. sejarah, dan kepemimpinan
7. Agar education superior performance dapat dicapai, sebuah lembaga pendidikan harus memiliki...
a. stake hoder satisfication
b. trust and confidence
c. competitove of advantage
d. center of business
e. jawaban a dan b benar
8. isi dari standar nasional pendidikan mencakup hal-hal dibawah ini kecuali:
a. Standar isi
b. Standar kompetensi lulusan
c. Standar pembiayaan
d. Standar pengelolaan pendidikan
e. Standar keamanan
9. definisi penjaminan mutu pendidikan adalah....
a. Proses penetapan dan pemenuhan standar mutu pengelolaan pendidikan secara konsisten dan berkelanjutan, dan sistematis agar semua pihak mendapat kepuasan
b. Proses penetapan dan pembuatan standar pendidikan agar diperoleh keputusan bersama yang nantinya bisa memenuhi kebutuhan stakeholder
c. Proses perencanaan dan penetapan standar mutu pengelolaan pendidikan secara konsisten dan berkelanjutan, dan sistematis agar semua pihak mendapat kepuasan
d. Proses perumusan dan perancangan model pendidikan secara konsisten dan berkelanjutan, dan sistematis agar semua pihak mendapat kepuasan
e. Proses perencanaan dan perancangan pengelolaan pendidikan secara konsisten dan berkelanjutan, dan sistematis agar semua pihak mendapat kepuasan
10. Suatu lembaga pendidikan dinyatakan bermutu atau berkualitas, apabila lembaga pendidikan tersebut...
a. menghasilkan laba
b. memiliki gedung bertingkat
c. pernah masuk tv
d. memiliki visi dan misi yang bagus
e. mampu mencapai visi dan misinya



























GLOSARIUM
Superior Performance: performa diatas rata-rata / nilai lebih suatu produk atau jasa yang membuat nama produ/ jasa tersebut menguasai pasar.
Customer Requirement Diversity: permintaan akan kebutuhan pelanggan yang berbeda-beda
Suistanable Competitive Advantage : keunggulan bersaing yang terus-menerus,
Continuous improvement: perkembangan itu secara berkelanjutan
Stakehoder Satisfication: kepuasan stakeholder
Trust and Confidence: kepercayaan konsumen pada perusahaan
Competitine Advantage: keunggulan bersaing
Center Of Excellent: pusat dari kesempurnaan
Positional Advantage: keuntungan posisi
Kaizen mutu: perbaikan mutu secara terus-menerus




















Daftar pustaka

Alma, Buchari. 2008. Pengantar Bisnis. Bandung: Alfabeta
www.kopertis.menado.org
http://www.ugm.ac.id/downloads/siklus-kjm.pdf
http://uharsputra.wordpress.com/manajemen-mutu/konsep-penjaminan-mutu/
http://www.kopertis4.or.id/Pages/data%202006/akreditasi/PEDOMAN/Penjamin%20Mutu%202.pdf

Senin, 04 Januari 2010

pengertian kurikulum

2.1 Pengertian Kurikulum
Istilah “Kurikulum” memiliki berbagai tafsiran yang dirumuskan oleh pakar-pakar dalam bidang pengembangan kurikulum sejak dulu sampai dewasa ini. Tafsiran-tafsiran tersebut berbeda-beda satu dengan yang lainnya, sesuai dengan titik berat inti dan pandangan dari pakar yang bersangkutan. Istilah kurikulum berasal dari bahasa Latin, curere, yaitu track yang digunakan dalam balap kereta kuda. Pada saat itu kurikulum diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari mulai dari start sampai finish untuk memperoleh medali/penghargaan. Saat ini pengertian tersebut diadopsi dalam dunia pendidikan menjadi sejumlah mata pelajaran (subjek) yang harus ditempuh oleh seorang sisiwa dari awal (tingkatan pertama/dasar) sampai akhir program pelajaran untuk memperoleh penghargaan berupa ijazah.
Dari pengertian tersebut, dalam kurikulum terkandung dua hal pokok, yaitu:
1) Adanya mata pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa
2) Tujuan utamanya adalah memperoleh ijazah
Istilah ini kemudian dipopulerkan oleh John Franklin Bobbit dalam bukunya yang berjudul “The Curriculum” yang diterbitkan pada tahun 1918 (http://en.wikipedia.org/wiki/Curriculum). Menurut Bobbit, kurikulum merupakan suatu naskah panduan mengenai pengalaman yang harus didapatkan anak-anak agar menjadi orang dewasa yang seharusnya. Oleh karena itu kurikulum merupakan kondisi ideal dibandingkan kondisi real. Kurikulum diibaratkan sebagai “jalur pacu” atau “kendaraan” untuk mencapai tujuan pendidikan dan kompetensi lulusan.
Kata kurikulum dikenal sebagai suatu istilah dalam dunia pendidikan sejak kurang lebih satu abad yang lampau. Di Indonesia istilah “kurikulum” boleh di katakan baru menjadi populer sejak tahun 50-an, yang dipopulerkan oleh mereka yang memperoleh pendidikan di Amerika Serikat. Kini istilah itu telah dikenal orang diluar pendidikan. Sebelumnya yang lazim digunakan ialah “rencana pelajaran”. Pada hakikatnya kurikulum sama artinya dengan rencana pelajaran. Hilda Taba dalam bukunya “Curriculum Development, Theory and Practice” mengartikan kurikulum sebagai “A plan for learning”, yakni sesuatu yang direncanakan untuk pelajaran anak.
Untuk mendapatkan rumusan tentang pengertian kurikulum seutuhnya, langkah baiknya jika kita mengetahui definisi kurikulum menurut para ahli. Di bawah ini adalah sejumlah definisi dari berbagai ahli kurikulum:
Nama ahli Tahun Keterangan
Hollis L. Caswell dan Doak S. Campbell 1935 …seluruh pengalaman yang dimiliki siswa dibawah bimbingan para guru
Robert M. Hutchins 1936 Kurikulum sebaiknya mencakup grammar (tata bahasa), kegiatan membaca, retorika dan logika serta matematika juga pada tingkat menengah mengenalkan buku-buku hebat mengenai dunia Barat.
Pickens E. Harris 1937 …pengembangan kurikulum nyatanya bergantung pada individu. Kurikulum juga berganda karena ada guru-guru dan siswa yang terpisah...Akan ada kurikulum bagi setiap anak.
Henry C. Morrison 1940 ….berisi petunjuk tanpa mengacu pada langkah instruksional atau media nya
Dorris Lee dan Murray Lee 1940 …berbagai pengalaman siswa yang difasilitasi sekolah dengan berbagai cara atau dipengaruhi sekolah
L.Thomas Hopkins 1941 Kurikulum [adalah rancangan yang dibuat] oleh orang-orang yang sangat peduli akan kegiatan hidup anak-anak ketika mereka berada di sekolah... sebuah kurikulum haruslah bersifat fleksibel terhadap hidup dan kehidupan. Kurikulum tidak dapat dibuat terlebih dahulu lalu diberikan pada murid dan guru untuk digunakan [Juga, itu]…mewakili pembelajaran yang dipilih, diterima, dan disertakan bagi tiap siswa untuk bertindak di, dalam dan sesuai dengan, urutan pengalaman.
H.H.Giles, S.P.McCuthen, dan A.N.Zecchiel 1942 …Kurikulum adalah...seluruh pengalaman yang diberikan sekolah dalam mendidik generasi muda
Harold Rugg 1947 [Kurikulum adalah] … arus aktifitas yang terpandu yang mendasari hidup para pemuda [pada buku-buku terdahulu, Rugg mengemukakan penolakan nya terhadap kurikulum tradisional sebagai sebuah”…kurikulum yang melampaui gambaran kebudayaan terdahulu dan mengabadikan bahasa yang punah serta teknik abstrak yang berguna bagi tak lebih dari sebagian masyarakat kita yang awam.”]
Ralph Tyler 1949 …pembelajaran terjadi melalui pengalaman yang dimiliki pelajar...”Pengalaman belajar”…[kurikulum mencakup]…seluruh pembelajaran siswa yang direncanakan dan diarahkan oleh sekolah untuk mencapai tujuan kependidikan nya.
Edward A. Krug 1950 …seluruh pengalaman belajar dibawah arahan sekolah
B.Othanel Smith W.O. Stanley, dan J.Harlan Shores. 1950 …rangkaian pengalaman potensial...diatur di sekolah dengan tujuan untuk mendisiplinkan sekelompok anak-anak dan pemuda dalam tatacara berpikir dan bertindak.
Roland B.Faunce dan Nelson L.Bossing 1951 …Pengalaman belajar tersebut penting bagi seluruh pelajar karena itu datang dari (1)masyarakat kita, desakan pribadi, dan kebutuhan serta (2) kebutuhan sosial dan sipil kita sebagai bagian dari anggota masyarakat demokratis.
Authur E.Bestor 1953 Keadaan ekonomi, politik, dan spiritual sebuah negara demokratis…menuntut seluruh pria dan wanita agar menguasai sejumlah keterampilan kompleks yang didasari disiplin ilmu sains, sejarah, ekonomi, filsafat...yang telah menjadi, jargon para...ahli pendidikan,”subyek permasalahan bidang ilmu.” Tetapi sebuah disiplin ilmu tidak serta-merta setara dengan subyek permasalahan bidang ilmu. Salah satunya adalah cara berpikir, yang lainnya hanyalah pengumpulan fakta.
Harold Alberty 1953 Seluruh aktivitas yang disediakan untuk para siswa oleh sekolah. Sekolah membuat kurikulum nya.
George Beauchamp 1956 …rancangan kelompok sosial untuk pengalaman edukasional bagi anak-anak mereka di sekolah. [Dr.Beaucahamp mengemukakan penekanan dalam perkembangan dalam kelompok menjelang tahun 1950an].
Philip H.Phenix 1962 Kurikulum sebaiknya mencakup seluruh pengetahuan dari disiplin tertentu [sementara] pendidikan sebaiknya dipahami sebagai rekapitulasi yang terpandu dari proses keingintahuan yang menentukan keberhasilan bagian ilmu pengetahuan yang terorganisir serta terdiri dari disiplin-disiplin yang telah ditetapkan.
HildaTaba 1962 Sebuah kurikulum adalah sebuah rencana untuk pembelajaran; oleh karena itu, apa yang diketahui mengenai proses pembelajaran dan pengembangan individu berperan dalam pembentukan kurikulum.
John I. Goddiad 1963 Sebuah kurikulum mencakup seluruh pembelajaran ditujukan bagi siswa atau kelompok siswa
Harry S. Broudy , B. Othanel Smith, dan Joe R. Burnett 1964 …jenis pengajaran bukanlah, hanya kegiatan berbicara , bagian dari kurikulum [yang] sebagian besar mencakup berbagai macam isi yang terorganisir menjadi sekelompok petunjuk.
J. Galen Saylor dan William M. Alexander 1966 dan 1974 [kurikulum adalah]…seluruh kesempatan belajar yang diberikan oleh sekolah ... sebuah perencanaan yang menyajikan rangkaian kesempatan belajar untuk mencapai tujuan umum pendidikan dan tujuan khusus yang berkaitan dalam identifikasi populasi oleh sebuah institusi (sekolah).
The Plowden Report (British) 1967 Kurikulum , dalam pengertian sempit , [terdiri dari] subyek yang dipelajari...pada periode 1898 sampai 1944...
Mauritz Johnson, Jr. 1967 …kumpulan hasil pembelajaran berstruktur yang telah ditentukan.
WJ.Popham dan Eva L. Baker 1970 …seluruh hasil pembelajaran yang terencana atas tanggungjawab sekolah.
Daniel Tanner dan Laurel Tanner 1975 …pengalaman belajar yang terencana dan terpandu serta hasil belajar yang terarah, dirumuskan melalui rekonstruksi ilmu pengetahuan dan pengalaman yang sistematik dibawah pertolongan sekolah, untuk keberlanjutan pelajar dan akan berkembang penuh pada kompetensi sosial pribadi.
Donald E. Orlosky dan B. Othanel Smith 1978 Kurikulum adalah bagian dari program sekolah. Kurikulum berisi apa yang diharapkan pada siswa dalam pembelajaran.
Peter F. Oliva 1982 Kurikulum adalah rencana atau program untuk semua pengalaman yang dihadapi siswa dibawah arahan sekolah.


Selain pengertian-pengertian diatas ada pengertian lain mengenai kurikulum, diantaranya:

1. J. Galeh Saylor dan William M. Alexander dalam buku Curriculum Planning for Better Teaching and Learning (1956) menyebutkan bahwa kurikulum adalah segala usaha sekolah untuk mempengaruhi anak belajar, apakah dalam ruangan kelas, di halaman sekolah atau di luar sekolah. Kurikulum juga meliputi apa yang disebut kegiatan ekstra-kurikuler.
2. B. Othanel Smith, W.O. Stanly dan J. Harlan Shores (1950), memandang kurikulum sebagai sejumlah pengalaman yang secara potensial dapat diberikan kepada anak dan pemuda, agar mereka dapat berfikir dan berbuat sesuai dengan masyarakat.
3. J. Lloyd dan Delmas F. Miller dalam buku Secondary School Imrovement (1973) mengemukakan bahwa dalam kurikulum juga termasuk metode mengajar dan belajar, cara mengevaluasi murid dan seluruh program, perubahan tenaga mengajar, bimbingan dan penyuluhan, supervisi dan administrasi dan hal hal struktural mengenai waktu jumlah ruangan serta kemungkinan memilih mata pelajaran.
4. Menurut Grayson (1978), kurikulum adalah suatu perencanaan untuk mendapatkan keluaran (outcomes) yang diharapkan dari suatu pembelajaran. Perencanaan tersebut disusun secara terstruktur untuk suatu bidang studi, sehingga memberikan pedoman dan instruksi untuk mengembangkan strategi pembelajaran. Materi di dalam kurikulum harus diorganisasikan dengan baik agar sasaran (goals) dan tujuan (objectives) pendidikan yang telah ditetapkan dapat tercapai.
5. Menurut Harsono (2005), kurikulum merupakan gagasan pendidikan yang diekpresikan dalam praktik. Saat ini definisi kurikulum semakin berkembang, sehingga yang dimaksud kurikulum tidak hanya gagasan pendidikan tetapi juga termasuk seluruh program pembelajaran yang terencana dari suatu institusi pendidikan.

Menghitung Laju Inflasi dengan berbagai Indeks Harga:

inflasi secara umum dapat didefinisikan sebagai kenaikan harga secara umum dan terus menerus. adapun untuk mrnghitung laju inflasi dapat men...